LONDON – Dunia esports global diguncang oleh kabar mengejutkan yang datang dari salah satu organisasi paling dominan di skena Dota 2 dalam beberapa tahun terakhir. Tundra Esports, juara The International (TI) 2022, secara resmi mengumumkan pengunduran diri mereka dari kancah kompetitif Dota 2 pada awal Juni 2026. Langkah ini diikuti dengan transfer penuh seluruh roster utama mereka ke organisasi 1win.
Keputusan ini menjadi sorotan utama komunitas Dota 2 dunia, mengingat Tundra Esports saat ini sedang berada di puncak performa dan memimpin klasemen sebagai tim paling sukses di musim 2025-2026.

Kronologi Kepergian dan Transisi Roster
Pengumuman resmi disampaikan oleh manajemen Tundra Esports melalui akun media sosial mereka pada Senin, 1 Juni 2026. Setelah enam tahun berkiprah dan mengukir sejarah dengan memenangkan sembilan turnamen Tier-1, termasuk gelar prestisius Aegis of Champions pada TI 2022, organisasi asal London ini memutuskan untuk “membuka babak baru”.
Per 1 Juni 2026, seluruh pemain andalan yang terdiri dari Ivan “Pure” Moskalenko, Bozhidar “bzm” Bogdanov, Neta “33” Shapira, Matthew “Ari” Walker, dan Matthew “Whitemon” Filemon, resmi berpindah panji ke organisasi 1win. Selain para pemain, pelatih kepala David “MoonMeander” Tan, analis degaz, manajer tim Jamba, dan direktur olahraga SweetyPotz juga turut bergabung dalam gerbong kepindahan ini.
Perlu dicatat bahwa dalam sistem Valve, undangan langsung (direct invite) ke The International 2026 melekat pada pemain, bukan organisasi. Oleh karena itu, skuad yang kini berada di bawah bendera 1win tersebut tetap berhak memegang slot undangan ke TI 2026 di Shanghai, Tiongkok, yang akan dihelat dalam waktu dekat.

Fenomena di Tengah Puncak Kejayaan
Keputusan Tundra Esports meninggalkan Dota 2 terasa sangat paradoks. Secara statistik, tahun 2026 adalah musim emas bagi mereka. Berdasarkan data per 27 Mei 2026, Tundra Esports menduduki peringkat ke-1 dunia dari 118 tim profesional.
Sepanjang musim 2025-2026, mereka telah mengamankan empat gelar juara turnamen Tier-1:
-
BLAST Slam IV (November 2025)
-
BLAST Slam V (Desember 2025)
-
DreamLeague Season 28 (Maret 2026)
-
ESL One Birmingham 2026 (Maret 2026)
Meskipun Tundra Esports tidak memberikan alasan spesifik terkait kepergiannya, pengamat industri menilai bahwa ini merupakan bagian dari tekanan finansial yang tengah melanda organisasi esports global. Fenomena serupa juga terlihat dari mundurnya organisasi seperti HEROIC dan paiN Gaming dari skena Dota 2 tahun ini, yang secara terbuka menyebutkan isu keberlanjutan bisnis sebagai faktor utama.
Dalam pernyataannya, pihak organisasi mengungkapkan bahwa keputusan ini adalah “langkah yang diperlukan” akibat kesulitan finansial yang membuat penjualan pemain menjadi opsi paling realistis agar proyek tersebut tetap bisa bertahan dalam bentuk yang berbeda.
Transformasi Tundra: Dari Tim Kompetitif ke Media Hub
Berbeda dengan organisasi lain yang langsung membubarkan diri setelah melepas tim Dota 2, Tundra Esports memilih untuk melakukan pivot strategis. Organisasi yang didirikan pada 2019 oleh pengusaha Rusia-Inggris, Maxim Demin, ini kini bertransformasi menjadi pusat media digital.
Tundra menegaskan bahwa mereka tidak benar-benar menghilang. Dalam pernyataan resmi yang dirilis beberapa hari setelah pelepasan roster, pihak manajemen menjelaskan:
“Kami mencintai kalian semua terlalu dalam untuk sekadar mengemas barang, menutup saluran media sosial, dan menghilang begitu saja. Itulah mengapa kami tetap di sini! Tundra Esports kini mengubah fokus menjadi pusat konten interaktif, pemberitaan, dan pertunjukan hiburan.”
Langkah ini menunjukkan pergeseran tren di industri esports, di mana organisasi mulai mengurangi beban operasional tim yang tinggi dan beralih ke model bisnis yang lebih fokus pada penciptaan konten dan monetisasi basis penggemar.
Apa Artinya bagi Masa Depan Kompetitif?
Kepindahan roster kelas dunia ini ke 1win memberikan stabilitas bagi para pemain. Sebagai tim yang sudah mengamankan tiket ke The International 2026, transisi ini diprediksi tidak akan mengganggu persiapan mereka menuju panggung terbesar Dota 2.
Bagi skena kompetitif secara luas, mundurnya organisasi besar seperti Tundra Esports menjadi sinyal kuat bahwa ekosistem Dota 2 tengah berada di fase kritis. Dengan semakin banyaknya organisasi yang berjuang di tengah ketidakpastian ekonomi, tuntutan untuk menciptakan model bisnis yang lebih berkelanjutan—baik melalui dukungan dari Valve, penyelenggara turnamen, atau diversifikasi pendapatan—menjadi sangat mendesak.
Tundra Esports telah menutup babak sejarah mereka sebagai salah satu raksasa Dota 2 yang paling ditakuti. Namun, warisan yang mereka tinggalkan—sebuah skuad yang tetap solid di bawah nama baru—akan terus menjadi ancaman bagi tim-tim lain dalam perebutan trofi Aegis di Shanghai nanti.
Saat kita mendekati puncak musim kompetitif 2026, mata dunia kini tertuju pada performa “mantan” tim Tundra yang kini berseragam 1win. Apakah mereka mampu mempertahankan performa impresif mereka dan mengakhiri musim dengan gelar juara, atau akankah transisi ini membawa dampak yang tak terduga bagi dinamika tim? Waktu yang akan menjawabnya.
Apakah Anda penasaran bagaimana perubahan organisasi ini akan memengaruhi peta persaingan di kualifikasi The International 2026 yang akan segera berlangsung?
