JAKARTA – Jagat esports Indonesia kembali diguncang oleh sebuah pengumuman yang tidak pernah diprediksi oleh siapa pun. Pada Selasa, 7 April 2026, salah satu organisasi esports terbesar dan paling bersejarah di Asia Tenggara, Rex Regum Qeon (RRQ), secara resmi mengumumkan Muhammad Jannah—yang lebih dikenal luas di dunia maya sebagai BIGMO—sebagai Brand Ambassador (BA) terbaru mereka. Pengumuman yang diunggah melalui kanal YouTube dan Instagram resmi Team RRQ ini sontak memicu badai reaksi yang luar biasa dahsyat. Alih-alih disambut dengan perayaan, kolom komentar justru dibanjiri hujatan, tanda tanya besar, hingga gelombang eksodus dari basis penggemar setia mereka, Kingdom.

Pertanyaan yang kini menggema di seluruh penjuru komunitas esports Tanah Air hanya satu: “Pak AP (Andrian Pauline, CEO RRQ) waras!?”
Bagaimana tidak? Langkah ini diambil tepat di saat RRQ Hoshi, divisi Mobile Legends: Bang Bang (MLBB) andalan mereka, sedang babak belur dan terpuruk tanpa kemenangan di Week 2 ajang bergengsi MPL Indonesia Season 17. Alih-alih mengumumkan perbaikan roster atau perombakan kursi pelatih, manajemen justru mendatangkan sosok figur publik yang rekam jejaknya dipenuhi dengan kontroversi kelas berat.
Untuk memahami seberapa masif dan kontroversialnya keputusan ini, mari kita bedah secara mendalam fakta-fakta aktual di balik perekrutan BIGMO, alasan logis (atau ilogis) dari kacamata manajemen RRQ, hingga dampak katastropik yang kini tengah melanda Kingdom.
Siapa Itu BIGMO? Rentetan Kontroversi dari Dunia Maya hingga Nyata
Untuk memahami akar dari kemarahan publik, kita harus melihat kembali rekam jejak Muhammad “BIGMO” Jannah. Berbeda dengan Brand Ambassador RRQ terdahulu seperti Windah Basudara yang dikenal family-friendly, inspiratif, dan memiliki citra positif yang solid, BIGMO adalah antitesis dari itu semua. Ia adalah pentolan dari basis penggemar yang menyebut diri mereka “NiceGang”, namun reputasinya di mata netizen umum jauh dari kata “nice”.

Berikut adalah deretan kontroversi faktual yang menyelimuti nama BIGMO hanya dalam beberapa bulan terakhir sebelum ia resmi berseragam RRQ:
1. Kasus Pencemaran Nama Baik Azizah Salsha Kontroversi paling segar yang menyeret nama BIGMO terjadi pada rentang waktu Maret hingga awal April 2026. Bersama dengan rekannya sesama kreator konten, Resbob, BIGMO sempat ditetapkan sebagai tersangka atas kasus dugaan pencemaran nama baik yang dilaporkan oleh Azizah Salsha. Kasus ini sempat memanas dan menjadi konsumsi publik selama berminggu-minggu. Beruntung bagi BIGMO, sehari sebelum pengumuman resmi dari RRQ (6 April 2026), Azizah Salsha memutuskan untuk mencabut laporan dan kasus ini berakhir dengan kesepakatan damai. Namun, noda hukum ini masih sangat membekas di ingatan netizen.
2. Latar Belakang Keluarga dan Sentimen Publik Bukan hanya ulahnya sendiri, BIGMO juga membawa beban moral dari latar belakang keluarganya. Ia diketahui merupakan anak dari seorang pejabat yang saat ini tengah terjerat dalam mega-kasus tindak pidana korupsi. Sentimen publik terhadap keluarganya membuat setiap kemunculan BIGMO di ruang publik selalu dibayangi oleh stigma negatif.
3. “Panggung” Kontroversial di Podcast Ferry Irwandi Pada Februari 2026, BIGMO diundang menjadi bintang tamu dalam podcast milik Ferry Irwandi. Kehadirannya di sana memicu kritik luas dari masyarakat. Publik menilai tidak pantas memberikan “panggung” bagi sosok problematik, apalagi dengan latar belakang kasus korupsi keluarganya yang masih berjalan. Alih-alih meredakan suasana, pernyataan-pernyataannya di podcast tersebut justru semakin memperburuk citranya.
4. Label Rasisme dan Perilaku Toksik Di komunitas gaming dan streaming, rekam jejak digital BIGMO kerap diwarnai dengan ucapan-ucapan yang tidak pantas. Beberapa potongan video masa lalunya kerap beredar, di mana ia melontarkan candaan yang menjurus pada rasisme dan perilaku toksik. Tidak heran jika salah satu penggemar RRQ di Twitter, @RRQ_Teto, dengan gamblang mencuitkan kekecewaannya: “Yahh ada si rasis join tim gw, jadi bete dah.”
Mengapa Manajemen RRQ (dan Pak AP) Mengambil Keputusan Ini?
Dengan segudang “red flags” atau bendera merah yang melekat pada diri BIGMO, merekrutnya sebagai wajah dari organisasi esports sekelas RRQ terdengar seperti tindakan bunuh diri secara public relations (PR). Lantas, apa yang ada di kepala Pak AP dan jajaran manajemen RRQ? Apakah mereka kehilangan akal sehat?
Jika kita membedah langkah ini dari kacamata bisnis hiburan digital dan esports marketing modern, ada beberapa teori logis yang bisa menjelaskan mengapa “perjudian” gila ini dilakukan:
1. Strategi “Bad Press is Good Press” dan Metrik Engagement Di era algoritma media sosial, engagement—baik itu positif maupun negatif—adalah mata uang yang berharga. Pengumuman masuknya BIGMO ke RRQ menghasilkan reach dan metrik interaksi yang meroket tajam dalam waktu singkat. Kolom komentar penuh, trending topic di X (sebelumnya Twitter), dan jutaan views di YouTube maupun TikTok. Bagi sebuah brand esports yang membutuhkan visibilitas konsisten, ledakan atensi ini adalah sesuatu yang nyata, meskipun sentimennya buruk. RRQ mungkin bertaruh bahwa kemarahan publik akan mereda seiring waktu, sementara angka followers dan visibilitas mereka tetap berada di puncak.
2. Penyatuan Dua Kutub Fandom: Kingdom x NiceGang Pihak RRQ secara eksplisit menyatakan bahwa BIGMO adalah kreator yang akan aktif dalam konten hiburan dan kolaborasi digital untuk menjangkau audiens yang lebih luas. Slogan “NiceGang & Kingdom Jadi Satu” bukan sekadar pemanis buatan. Manajemen melihat ada pasar niche yang sangat masif di balik sosok BIGMO. NiceGang memiliki basis massa yang militan, loyal pada idolanya, dan memiliki daya beli. Dengan mengakuisisi ikon mereka, RRQ berharap dapat mengonversi basis penggemar tersebut menjadi konsumen dari merchandise dan konten-konten milik RRQ.
3. Diversifikasi Konten di Tengah Masa Kritis Tim Kompetitif Seperti yang telah disinggung, RRQ Hoshi sedang berada di titik nadir. Di klasemen sementara MPL ID S17 Week 2, mereka terpuruk tanpa satupun kemenangan, sementara rival seperti Team Liquid ID (TLID) justru meroket menyalip ONIC. Ketika prestasi di panggung kompetitif tidak bisa dijual kepada sponsor, tim esports harus memutar otak untuk tetap relevan. Mengalihkan fokus audiens ke arah entertainment dan drama influencer adalah salah satu cara untuk menutupi kelemahan di sektor prestasi olahraga. BIGMO adalah distraksi yang sempurna. Ia adalah “penangkal petir” yang menyerap semua atensi, sehingga tekanan terhadap performa roster MLBB RRQ sedikit terdistraksi oleh drama sang Brand Ambassador.
Reaksi Ekstrem Kingdom: “Izin Pamit” dan Kekecewaan Mendalam
Meski ada kalkulasi bisnis di baliknya, manajemen RRQ tampaknya meremehkan ikatan emosional antara tim dan penggemar setia mereka, Kingdom. Reaksi pasca-perekrutan ini bukan sekadar protes biasa; ini adalah bentuk pengkhianatan nilai-nilai (value) yang selama ini diyakini oleh fans.
Dalam kurun waktu 24 jam setelah pengumuman, tagar terkait RRQ dan BIGMO merajai lini masa. Kata kunci “RRQ Downfall” menggema di berbagai platform. Netizen dan fans setia berbondong-bondong membuat video dengan narasi “Kingdom Ramai Izin Pamit”. Di YouTube Shorts, video-video dengan judul seperti “MANY KINGDOMS SAID GOODBYE AND STOPPED SUPPORTING RRQ BECAUSE BIGMO BECAME RRQ’S BA” viral seketika.
Kritik pedas tidak hanya datang dari penggemar biasa (casual fans), tetapi juga dari figur-figur besar di komunitas esports.
-
Kreator konten legendaris Brandon Kent (BrandonKentjana) secara terang-terangan melontarkan amarahnya di kolom komentar Instagram RRQ: “BUKANNYA SIBUK BENERIN PLAYER AMA COACHNYA. MALAH CARI BA YG GA PENTING. G**K”.
-
Akun penggemar @bogeldoaibu menyuarakan rasa frustrasi kolektif: “LU NGAPAIN G**K? @teamrrqofficial bukanye benahin roster malah narik begituan buat jadi BA, dongo.”
-
Akun @Kidldfk memberikan sentilan moral kepada manajemen: “B*****e cari lain napa, kan kalian hidup dari kami para penggemar.”
-
Sementara itu, kekecewaan paling mendalam tertuang dari akun @san_sanPS yang pesimis dengan masa depan tim: “Vibenya udah jadi kaya tim gurem…”
Perbandingan dengan Brand Ambassador sebelumnya adalah pukulan terberat bagi RRQ. “Dari Windah ke Ini, RRQ Downfall,” tulis sebuah ulasan esports. Windah Basudara, mantan BA RRQ, membawa vibe yang sehat, menghibur tanpa menjatuhkan, dan merangkul anak-anak hingga dewasa. Transisi dari sosok “Bapak Bocil Kematian” yang dihormati menjadi BIGMO yang sarat masalah dianggap sebagai degradasi moral organisasi. Kingdom merasa malu untuk mengenakan jersey RRQ jika wajah tim mereka diwakili oleh sosok yang baru saja lepas dari kasus hukum dan kerap melontarkan ujaran kebencian.
Dampak Pasca-Perekrutan: Apakah RRQ Menggali Kuburnya Sendiri?
Langkah kontroversial ini membuka diskusi yang lebih besar tentang arah industri esports di Indonesia. Jika kita berkaca pada skena global, organisasi esports sangat berhati-hati dalam menjaga citra mereka. Sebagai contoh, tahun lalu (Mei 2025), Team Liquid harus kehilangan sponsor raksasa sekelas Honda hanya karena salah satu pemainnya (Liquid Dias) melontarkan cuitan kontroversial di media sosial. Sponsor di industri gaming sangat alergi terhadap risiko (risk-averse).
Lalu bagaimana nasib RRQ ke depannya?
1. Potensi Boikot Sponsor Dengan masuknya BIGMO, RRQ mempertaruhkan reputasi korporat mereka di mata sponsor. Merek-merek FMCG, teknologi, atau perbankan yang biasanya mensponsori turnamen dan tim esports bisa jadi akan berpikir dua kali untuk memperpanjang kontrak. Mereka tentu tidak ingin logo brand mereka bersanding dengan sosok yang pernah tersandung kasus pencemaran nama baik atau memiliki rekam jejak digital rasis.
2. Retaknya Mentalitas Pemain Internal Bayangkan Anda adalah seorang pro player RRQ Hoshi yang sedang struggle dan tertekan di bootcamp karena kalah beruntun di MPL S17. Anda membuka media sosial berharap mendapat dukungan, namun yang Anda lihat hanyalah cacian dan spam kebencian dari netizen akibat ulah Brand Ambassador tim Anda sendiri. Secara psikologis, langkah manajemen ini sangat tidak berempati terhadap perjuangan pemain kompetitif mereka. Lingkungan (environment) tim menjadi tidak kondusif.
3. Hilangnya Identitas Tim “Raja dari Segala Raja” RRQ selama bertahun-tahun membangun citra sebagai “Raja dari Segala Raja”. Ada eksklusivitas, wibawa, dan kehormatan yang melekat pada nama Rex Regum Qeon. Keputusan merekrut BIGMO perlahan menggerus marwah tersebut. Ketika fans sendiri melabeli RRQ dengan sebutan “tim gurem”, itu adalah tanda bahaya merah (code red) bagi departemen branding mereka. Kesetiaan Kingdom, yang dulu dikenal sebagai salah satu fanbase paling solid dan suportif di scene MLBB, kini terpecah belah.
Kesimpulan: Taruhan Berbahaya di Atas Papan Catur Esports
Perekrutan BIGMO oleh RRQ bukanlah sebuah ketidaksengajaan. Ini adalah manuver bisnis yang dieksekusi dengan sadar oleh Pak AP dan jajaran petinggi manajemen, dengan segala kalkulasi risikonya. Di atas kertas Excel, mungkin penggabungan NiceGang dan Kingdom terlihat seperti peluang pasar yang menjanjikan. Angka tayangan (views) YouTube RRQ dalam beberapa minggu ke depan mungkin akan melonjak tajam karena hate-watching (orang menonton karena benci/penasaran).
Namun, dunia esports tidak hanya dibangun di atas algoritma views dan likes. Ia dibangun di atas passion, kebanggaan, dan ikatan emosional. Keputusan menjadikan BIGMO sebagai Brand Ambassador di tengah rentetan masalah masa lalunya—mulai dari kasus Azizah Salsha, bayang-bayang kasus korupsi sang ayah, hingga perilaku toksik di internet—adalah sebuah perjudian mahal yang mempertaruhkan warisan (legacy) belasan tahun.
Hingga saat artikel ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi tambahan atau klarifikasi dari Pak AP terkait gelombang protes Kingdom yang terus membesar. RRQ tampak memilih untuk “tutup telinga” dan membiarkan badai ini lewat. Namun, pertanyaannya: ketika badai ini usai, apakah Kingdom masih akan berdiri di sana mendukung sang Raja, atau mahkota tersebut sudah terlanjur hancur oleh tangan mereka sendiri?
Hanya waktu—dan mungkin hasil pertandingan RRQ Hoshi di sisa musim MPL ID S17—yang bisa menjawab apakah Pak AP benar-benar “waras” dan visioner, atau sedang membawa kapal raksasa bernama RRQ menabrak gunung es kehancuran.
