Jagad esports Mobile Legends: Bang Bang (MLBB) Indonesia kembali diguncang oleh badai drama. Memasuki penghujung babak Regular Season MPL Indonesia Season 17 (Mei 2026), sorotan utama justru tidak jatuh pada tim-tim papan atas yang sedang berebut tiket Upper Bracket, melainkan pada keterpurukan tragis sang “Raja dari Segala Raja”, RRQ Hoshi.
Di tengah performa terburuk sepanjang sejarah organisasi tersebut, sebuah pernyataan tajam dan menohok meluncur dari mulut Azam “Nafari” Nafari, pelatih Alter Ego. Tidak tanggung-tanggung, Nafari menyebut skuat RRQ musim ini sebagai “tim pecundang” yang bermain tanpa hasrat.
Pernyataan ini sontak memicu reaksi masif di komunitas, membelah opini publik, dan memancing komentar dari para legenda hidup RRQ sendiri. Berikut adalah rincian lengkap dari insiden, fakta performa, hingga rentetan krisis yang menimpa RRQ Hoshi di MPL ID S17.

Kronologi Statement Pedas Nafari: “Tim Pecundang”
Kritik tajam ini bermula dari sebuah sesi livestream dan podcast yang menyoroti performa tim-tim di MPL ID S17. Nafari, yang dikenal memiliki analisis tajam dan blak-blakan, tidak bisa menahan rasa frustrasinya melihat cara bermain RRQ Hoshi dalam beberapa pekan terakhir.
Dalam cuplikan video yang langsung viral di berbagai platform seperti YouTube dan TikTok, Nafari dengan tegas melontarkan kritik yang mempertanyakan mentalitas para pemain RRQ.
“RRQ is just a loser team in MPL ID S17. RRQ malu, nggak ada kemauan buat main, dan kelihatan kayak mereka cuma lagi terpaksa harus main,” tegas Nafari.
Jika diterjemahkan ke dalam konteks kompetitif, Nafari menyoroti hilangnya fighting spirit atau daya juang dari skuat asuhan Coach Khezcute tersebut. Sebagai sosok pelatih yang juga bertarung di liga yang sama bersama Alter Ego, Nafari melihat bahwa para pemain RRQ Hoshi di atas panggung tidak lagi menunjukkan rasa bangga membawa nama besar tim. Gestur, pengambilan keputusan di dalam Land of Dawn, hingga cara mereka menerima kekalahan dianggap mencerminkan tim yang sudah hancur dari dalam sebelum Nexus mereka benar-benar dihancurkan oleh lawan.
Fakta Pahit di Lapangan: Rekor Terburuk 1-13
Pernyataan Nafari, sepedas apa pun terdengarnya, sayangnya sangat didukung oleh data dan fakta aktual di papan klasemen MPL ID Season 17. Bagi para penggemar setia RRQ (Kingdom), musim ini adalah sebuah mimpi buruk yang nyata.

Hingga pekan kesembilan (Minggu, 24 Mei 2026), RRQ Hoshi tertahan di dasar klasemen (posisi ke-9) dengan rekor pertandingan yang sangat memprihatinkan: 1 kemenangan dan 13 kekalahan.
Berikut adalah rangkuman data kehancuran RRQ di Regular Season S17:
-
Awal yang Kelam: RRQ Hoshi membuka musim dengan kekalahan beruntun. Di pekan pertama, mereka langsung dilibas 0-2 oleh Natus Vincere (Navi) dan 0-2 oleh sang juara bertahan, ONIC Esports.
-
Gagal di Laga Genting: Memasuki pertengahan musim, rentetan hasil negatif terus berlanjut. Kekalahan 1-2 dari Alter Ego, 0-2 dari EVOS di laga El Clasico, hingga ditumbangkan 0-2 oleh Dewa United semakin membenamkan posisi mereka.
-
Satu-satunya Kemenangan: Kemenangan semata wayang RRQ di musim ini hanya terjadi pada Pekan ke-6, saat mereka secara mengejutkan menang 2-0 atas Bigetron. Namun, euforia itu hanya bertahan sehari sebelum mereka kembali dihantam 0-2 oleh ONIC keesokan harinya.
-
Gagal Playoff Dua Musim Beruntun: Kekalahan beruntun di Pekan ke-7 (0-2 dari EVOS dan 0-2 dari Geek Fam) secara matematis menutup peluang RRQ untuk lolos ke babak Playoff. Ini menjadi sejarah kelam baru: untuk pertama kalinya, RRQ Hoshi gagal lolos ke Playoff selama dua musim berturut-turut (Season 16 dan Season 17).
Dengan win rate pertandingan yang tidak menyentuh angka 10% dan selisih game (Game Difference) yang minus sangat jauh (-17), label “tim pecundang” yang disematkan Nafari menjadi sebuah realitas pahit yang tidak bisa dibantah dengan statistik.
Reaksi Komunitas dan Kekecewaan Sang Legenda, R7
Statement Nafari memicu ledakan reaksi. Namun yang mengejutkan, banyak figur publik dan mantan punggawa RRQ yang justru setuju dengan esensi dari kritik tersebut, meskipun bahasa yang digunakan sangat keras.
Mantan EXP Laner andalan RRQ Hoshi, Rivaldi “R7” Fatah, turut meluapkan kekecewaannya. Dalam sebuah sesi reaction stream bersama figur esports lainnya seperti Mas Ade, R7 terlihat frustrasi melihat performa para juniornya. Alih-alih membela tim lamanya dari kritik Nafari, R7 justru memvalidasi bahwa ada yang sangat salah dengan mentalitas roster saat ini.
Bagi R7 dan para veteran lainnya, mengenakan jersey RRQ bukan sekadar soal skill mekanik yang tinggi, melainkan soal tekanan mental (mental baja) untuk selalu membuktikan diri sebagai raja. Pemain-pemain generasi S17 dinilai kehilangan identitas tersebut. Publik menilai bahwa para pemain terlihat burnout, kebingungan, dan seolah “terpaksa” menjalankan sisa pertandingan karena mereka sudah tahu peluang lolos Playoff telah tertutup.
4 Faktor Utama Runtuhnya Kerajaan RRQ Hoshi di S17
Mengapa tim dengan sumber daya sebesar RRQ bisa jatuh sedalam ini? Berdasarkan performa historis musim ini, ada beberapa faktor krusial yang merusak stabilitas tim:
-
Mentalitas Snowballing Negatif Kekalahan beruntun di awal musim menciptakan efek snowball pada psikologis pemain. Ketika sebuah tim besar terus-menerus kalah, tekanan dari ekspektasi fans berubah menjadi teror. Pemain bermain dalam bayang-bayang ketakutan melakukan kesalahan (fear of making mistakes), yang justru membuat mereka bermain pasif dan seolah “terpaksa main” seperti yang disoroti Nafari.
-
Rotasi Roster yang Terlalu Sering dan Membingungkan Musim ini, Coach Khezcute mencoba meracik banyak kombinasi pemain (Superkenn, Rinz, Idok, Kuroky, Supertoyy, Superdann, Yehezkiel). Sayangnya, perombakan yang terus-menerus ini membuat chemistry tim tidak pernah benar-benar terbentuk. Akibatnya, komunikasi di dalam game sering kali terlihat tidak sinkron, terutama saat perebutan objektif Lord atau Turtle.
-
Adaptasi Meta yang Terlambat RRQ terlihat sering kalah langkah dalam fase Draft Pick. Mereka kesulitan beradaptasi dengan kecepatan rotasi meta terbaru dibandingkan tim-tim seperti Team Liquid ID atau ONIC yang sangat fleksibel. Ketidakmampuan membaca pergerakan musuh membuat RRQ selalu tertinggal dari segi pengumpulan Gold sejak early game.
-
Hilangnya Sosok Leader (In-Game Caller) Absennya sosok kapten atau penentu keputusan absolut di dalam Land of Dawn membuat arah permainan RRQ sering kali buntu. Di masa jayanya, RRQ memiliki sosok seperti Vyn atau R7 yang berani mengambil keputusan makro yang berisiko namun terukur. Musim ini, RRQ bermain tanpa “supir” yang jelas.
Panggilan Bangun (Wake-up Call) yang Brutal
Kalimat pedas Nafari yang menyebut RRQ sebagai “tim pecundang yang terpaksa harus main” mungkin terdengar kasar dan tidak etis bagi sebagian pihak. Namun, dalam ekosistem esports profesional yang kejam, kritik ini adalah cermin kejujuran yang paling telanjang.
Bagi manajemen Rex Regum Qeon, kegagalan beruntun di Season 16 dan Season 17 harus menjadi sinyal bahaya tertinggi. Skuat saat ini sedang mengalami krisis identitas yang parah. Evaluasi menyeluruh—mulai dari jajaran pelatih, pemilihan roster, hingga penanganan psikologis pemain—adalah harga mati jika mereka tidak ingin status “Raja dari Segala Raja” hanya tersisa menjadi dongeng masa lalu.
Musim depan (MPL ID Season 18) akan menjadi ujian pembuktian. Apakah RRQ Hoshi akan bangkit membungkam kritik pedas Nafari, atau justru semakin tenggelam dalam kutukan dasar klasemen? Satu hal yang pasti, Kingdom menuntut revolusi total.
