Dunia esports Mobile Legends: Bang Bang Indonesia kembali diguncang oleh kabar yang sangat mengejutkan sekaligus memprihatinkan bagi para penggemar setianya. Tim raksasa yang selama bertahun-tahun merajai skena kompetitif, RRQ Hoshi, kini tengah berada di ujung tanduk. Rentetan hasil buruk yang terus menghantui skuad berjuluk “Raja dari Segala Raja” ini tampaknya telah mencapai puncaknya.
Kabar burung yang beredar kencang di berbagai platform media sosial dan forum komunitas esports menyebutkan bahwa manajemen RRQ tengah bersiap untuk melakukan perombakan besar-besaran, tidak hanya pada susunan pemain (roster) utama, tetapi juga di jajaran kepelatihan. Isu perombakan ini muncul tidak lama setelah RRQ Hoshi dipastikan gagal melangkah ke babak playoff MPL Indonesia Season 17. Kegagalan ini menjadi noda hitam sejarah yang sangat menyakitkan, mengingat ini adalah kali kedua secara beruntun RRQ harus absen dari panggung utama playoff, sebuah tragedi yang sebelumnya dianggap mustahil terjadi pada tim dengan basis penggemar sebesar Kingdom.
Mimpi Buruk yang Terulang: Kegagalan Beruntun Sang Raja
Bagi pengamat dan penikmat skena kompetitif MPL Indonesia, keterpurukan RRQ Hoshi bukanlah sesuatu yang terjadi dalam semalam. Tanda-tanda kemunduran ini sudah mulai terlihat sangat jelas sejak musim sebelumnya, yakni di MPL ID Season 16. Kala itu, untuk pertama kalinya dalam sejarah, RRQ Hoshi gagal melaju ke babak playoff setelah kalah bersaing dari segi win rate dengan tim Natus Vincere (NAVI). Kekalahan tersebut menjadi pukulan telak yang membuat manajemen melakukan evaluasi.
Banyak pihak mengira bahwa kegagalan di Season 16 akan menjadi tamparan keras yang membangkitkan amarah Sang Raja. Memasuki MPL ID Season 17, RRQ Hoshi datang dengan harapan baru, membawa susunan roster yang diharapkan mampu mengembalikan kejayaan. Namun, realita di lapangan justru berkata sebaliknya. RRQ Hoshi justru tampil lebih terseok-seok dibandingkan musim sebelumnya.
Hingga pekan ketujuh MPL ID Season 17, RRQ Hoshi tercatat hanya mampu meraih 1 kemenangan dari total 12 pertandingan yang mereka jalani. Rekor 1-11 ini menempatkan mereka di dasar klasemen sementara, sebuah posisi yang sangat tidak lazim bagi tim sekelas RRQ. Keterpurukan ini akhirnya mencapai titik puncaknya pada pekan ketujuh yang sering disebut sebagai “Minggu Berdarah” (Bloody Sunday).
Rincian Laga Penentu yang Menghancurkan Harapan RRQ
Kepastian gagalnya RRQ Hoshi ke babak playoff musim ini ditentukan oleh dua laga krusial di pekan ketujuh. Pertandingan pertama adalah laga adu gengsi bertajuk Classic Derby melawan musuh bebuyutan mereka, EVOS Esports, pada Sabtu, 9 Mei 2026. Dalam laga yang penuh emosi tersebut, RRQ Hoshi gagal menunjukkan tajinya dan harus tunduk dengan skor telak 0-2. Kekalahan ini membuat posisi mereka semakin terhimpit.
Kesempatan terakhir bagi RRQ Hoshi kemudian tersisa pada laga melawan Geek Fam di hari berikutnya, Minggu, 10 Mei 2026. Di atas kertas, RRQ memiliki dukungan penuh untuk bisa memenangkan pertandingan ini. Namun, Geek Fam yang dijuluki The King Slayer (Sang Pembunuh Raja) sedang berada dalam performa puncak berkat kebangkitan kapten Baloyskie dan kawan-kawan.
Pada game pertama, RRQ sebenarnya sempat memberikan perlawanan sengit. Mereka bahkan berhasil mendominasi perolehan Turtle di early game dan mengamankan beberapa Lord. Sayangnya, pertarungan krusial di late game menjadi malapetaka. Ketika RRQ mencoba menembus markas Geek Fam menggunakan Lord kelima, Geek Fam berhasil melakukan defense luar biasa. Player Geek Fam, Nazara, yang menggunakan Suyou, menjadi mimpi buruk bagi RRQ dengan menumbangkan SuperDann. Satu per satu pemain RRQ gugur, memberikan ruang bagi Geek Fam untuk melakukan comeback dan mengamankan game pertama.
Memasuki game kedua, mental punggawa RRQ tampaknya sudah sangat terguncang. Geek Fam dengan mudah mengatasi berbagai agresi yang coba dibangun oleh anak-anak asuh dari tim kepelatihan RRQ. Perebutan Lord kedua menjadi kunci runtuhnya pertahanan Sang Raja, dan Geek Fam akhirnya menutup laga dengan kemenangan 2-0. Hasil ini secara matematis menutup peluang RRQ untuk masuk ke posisi enam besar, memastikan mereka absen di playoff untuk kedua kalinya secara beruntun.
Roster Bintang yang Gagal Menyatukan “Chemistry”
Kegagalan fatal di MPL ID Season 17 ini memicu banyak pertanyaan, terutama mengenai komposisi pemain. Padahal, manajemen RRQ sudah melakukan perekrutan besar di bursa transfer. Susunan roster RRQ Hoshi musim ini diisi oleh nama-nama yang seharusnya mumpuni:
-
Jungler: Super Kenn (pemain potensial yang didatangkan untuk menjadi ujung tombak)
-
Midlaner: Rinz & Yehezkiel
-
Goldlaner: SuperToyy & Kuroky
-
Roamer: Idok
-
EXP-laner: SuperDann
Secara mekanik individu, para pemain ini memiliki kemampuan di atas rata-rata. Namun, dalam Mobile Legends, chemistry dan decision making sebagai sebuah tim adalah kunci utama. Sering kali terlihat dalam pertandingan, RRQ kehilangan arah saat memasuki mid hingga late game. Komunikasi yang kurang mulus, blunder di saat genting, serta ketidakmampuan beradaptasi dengan meta terbaru menjadi penyakit kronis yang gagal disembuhkan oleh jajaran pelatih.
Banyak analis esports menilai bahwa tekanan mental bermain di bawah nama besar RRQ menjadi beban tersendiri bagi roster yang masih mencoba mencari jati diri ini. Kegagalan demi kegagalan dari minggu pertama membuat kepercayaan diri para pemain runtuh, sehingga mereka tidak bisa bermain lepas.
Buntut Kegagalan: Rumor Perombakan Besar-besaran
Dengan hasil yang sangat mengecewakan ini, tidak heran jika rumor mengenai perombakan besar-besaran (perombakan total atau revamp) mencuat ke permukaan. Pak AP (Andrian Pauline), selaku CEO dari RRQ, dikenal sebagai sosok yang ambisius dan tidak pernah puas dengan hasil medioker. Meskipun belum ada pengumuman resmi yang dikeluarkan oleh manajemen, indikasi ke arah perombakan sangat kuat.
Rumor pertama menyasar pada jajaran staf kepelatihan. Ketidakmampuan tim pelatih dalam menemukan strategi yang efektif dan menyatukan para pemain baru dianggap sebagai kegagalan fatal. Banyak penggemar yang berspekulasi bahwa RRQ akan mendatangkan pelatih veteran dengan rekam jejak juara yang solid, mungkin dari kancah internasional (seperti Filipina), untuk membawa disiplin dan pemahaman macro-play yang baru.
Rumor kedua, yang jauh lebih panas, adalah perombakan roster secara ekstrem. Beberapa sumber tidak resmi di komunitas esports menyebutkan bahwa manajemen tengah mempertimbangkan untuk menempatkan sebagian besar roster saat ini ke dalam transfer list atau menurunkannya ke MDL (liga kasta kedua). Sebagai gantinya, RRQ dikabarkan siap membuka dompet lebar-lebar untuk mengakuisisi pemain bintang dari tim-tim rival, atau mempromosikan talenta-talenta muda underdog yang lebih haus akan kemenangan.
Apakah perombakan ini akan benar-benar terjadi? Jika melihat sejarah manajemen RRQ, mereka bukanlah tim yang ragu untuk mengambil langkah drastis demi menyelamatkan nama baik organisasi. Kehilangan panggung playoff selama dua musim berturut-turut adalah kerugian besar, baik dari segi prestasi, sponsor, maupun fanbase.
Menanti Kebangkitan Sang Raja
Para Kingdom (sebutan untuk penggemar RRQ) saat ini berada dalam fase kekecewaan yang mendalam. Berbagai kritik dan saran membanjiri kolom komentar di akun media sosial resmi tim. Meskipun banyak yang marah, tidak sedikit pula yang tetap memberikan dukungan moril dan berharap tim kesayangan mereka bisa bangkit dari keterpurukan.
Proses rebuilding sebuah tim raksasa yang sedang hancur memang tidak mudah dan membutuhkan waktu. Namun, perombakan besar-besaran di jajaran pemain dan pelatih tampaknya sudah menjadi harga mati yang tidak bisa ditawar lagi oleh manajemen RRQ Hoshi. Patut kita nantikan langkah konkret apa yang akan diambil oleh Pak AP dan jajarannya setelah musim MPL ID Season 17 ini berakhir. Akankah Sang Raja mampu bangkit dari abu dan kembali merebut tahtanya, atau justru semakin tenggelam dalam bayang-bayang kejayaan masa lalu? Hanya waktu yang bisa menjawabnya.
