JAKARTA – Industri esports Asia Tenggara kembali dikejutkan dengan kabar dari organisasi raksasa, Rex Regum Qeon (RRQ). Setelah sempat melakukan comeback yang sangat dinantikan ke skena kompetitif Apex Legends pada akhir tahun 2025, organisasi berjuluk “Sang Raja” ini secara resmi mengumumkan perpisahan dengan seluruh jajaran pemain dan staf kepelatihan mereka.

Keputusan ini mengakhiri perjalanan singkat namun intens dari skuad yang dipimpin oleh kapten asal Thailand, Panupong “sato_kohai” Prasertphongkun. Langkah ini memicu berbagai spekulasi di kalangan penggemar mengenai masa depan divisi battle royale milik RRQ dan bagaimana dinamika ALGS (Apex Legends Global Series) memengaruhi keputusan organisasi besar dalam mempertahankan tim mereka.
Latar Belakang: Ambisi yang Kembali Bersemi
Untuk memahami signifikansi dari perpisahan ini, kita perlu menilik kembali Desember 2025. Setelah absen selama hampir enam tahun—terakhir kali RRQ memiliki tim Apex Legends pada 2019—manajemen RRQ memutuskan untuk melakukan ekspansi besar-besaran.
Alih-alih membangun tim dari nol, RRQ memilih jalur akuisisi strategis terhadap roster Las Vegas Inferno, tim yang kala itu menyandang status runner-up di ajang ALGS 2025 Last Chance Qualifier (LCQ) wilayah APAC South. Langkah ini diambil sebagai bukti keseriusan RRQ untuk langsung tancap gas di level dunia, khususnya menjelang gelaran ALGS Year 5 Championship di Sapporo, Jepang.
Skuad yang dilepas tersebut terdiri dari:
-
Panupong “sato_kohai” Prasertphongkun (Kapten/IGL)
-
Komkrit “Noelsang” Malaihom (Fragger)
-
Supakorn “mosu” Kaewpang (Support)
-
Jasper “yanlys” Xiang (Pelatih)
-
Alexis “zona” (Analis)
Perjalanan di ALGS Championship 2026: Titik Balik
Target utama dari pembentukan tim ini adalah memberikan performa maksimal di Sapporo pada Januari 2026. Namun, realita di lapangan seringkali lebih pahit daripada ekspektasi di atas kertas. Berdasarkan data turnamen, RRQ berjuang keras di tengah persaingan 40 tim terbaik dunia.
Pada babak grup, tim ini menunjukkan kilasan mekanik yang luar biasa, namun konsistensi menjadi kendala utama. RRQ mengakhiri fase grup di peringkat ke-14 pada hari kedua, sebuah posisi yang memaksa mereka harus berjuang di Elimination Round. Sayangnya, perjalanan mereka harus terhenti di babak eliminasi pertama dengan finis di peringkat ke-12, yang secara otomatis menutup peluang mereka melaju ke babak final di hadapan ribuan penonton di Jepang.
Finis di peringkat ke-32 secara keseluruhan (overall) dalam turnamen sebesar ALGS Championship menjadi hasil yang sulit diterima oleh organisasi dengan standar juara seperti RRQ.
Alasan di Balik Perpisahan: Mengapa Sekarang?
Meski pengumuman resmi seringkali menggunakan bahasa diplomatis seperti “kesepakatan bersama”, para analis esports melihat adanya tiga faktor utama yang mendasari pembubaran skuad ini:
1. Evaluasi Performa Berbasis Hasil
Dunia esports adalah industri yang sangat bergantung pada hasil (result-oriented). Bagi RRQ, mengakuisisi tim yang sudah “jadi” adalah investasi besar dengan harapan ROI (Return on Investment) yang cepat berupa prestasi internasional. Kegagalan menembus babak final di Sapporo memberikan sinyal bahwa meskipun tim ini dominan di level regional (APAC South), masih ada celah besar untuk bersaing dengan raksasa dunia seperti TSM, Falcons, atau Alliance.
2. Restrukturisasi Organisasi di Tahun 2026
Memasuki kuartal pertama tahun 2026, banyak organisasi esports global mulai melakukan efisiensi. Setelah kegagalan di ALGS, RRQ tampaknya memilih untuk memfokuskan sumber daya mereka ke divisi lain yang lebih stabil dan memberikan eksposur lebih tinggi, seperti Mobile Legends (RRQ Hoshi) dan Valorant yang sedang memasuki musim liga Pasifik.
3. Ekosistem Apex Legends yang Fluktuatif
Meskipun hadiah total ALGS Year 5 mencapai angka fantastis (USD 2 juta), ekosistem kompetitif Apex Legends dikenal sangat kejam bagi tim yang tidak berada di posisi 10 besar dunia. Biaya operasional untuk mempertahankan tim di luar negeri, gaji pemain internasional, dan staf pendukung seringkali tidak sebanding dengan pendapatan dari sponsor jika tim tidak tampil di panggung utama secara konsisten.
Dampak Bagi Para Pemain dan Komunitas
Bagi Sato_kohai, Noelsang, dan Mosu, status mereka sebagai free agent kini menjadikan mereka komoditas panas di bursa transfer pemain Thailand dan APAC South. Mengingat mereka adalah mantan pemain RRQ, nilai pasar mereka tetap tinggi berkat pengalaman internasional yang baru saja mereka dapatkan di Jepang.
Di sisi lain, komunitas “Kingdom” (sebutan penggemar RRQ) merespons dengan perasaan campur aduk. Banyak yang menyayangkan pembubaran ini karena merasa tim tersebut hanya butuh waktu lebih lama untuk beradaptasi dengan bendera baru. Namun, sebagian besar memahami bahwa manajemen RRQ selalu memprioritaskan tim yang memiliki potensi nyata untuk mengangkat trofi.
“Kami berterima kasih atas dedikasi Sato_kohai dan kawan-kawan. Perjalanan di Sapporo akan selalu menjadi bagian dari sejarah kami, namun terkadang kita harus berpisah untuk menemukan jalan kesuksesan yang berbeda,” tulis RRQ dalam pernyataan singkat di media sosial mereka.
Apa Langkah RRQ Selanjutnya?
Apakah RRQ akan benar-benar meninggalkan Apex Legends selamanya? Sejarah menunjukkan bahwa organisasi ini tidak ragu untuk keluar-masuk sebuah judul game tergantung pada kesehatan ekosistemnya.
Melihat tren saat ini, RRQ kemungkinan besar akan:
-
Hiatus Sementara: Menunggu hingga struktur kompetitif tahun 2027 diumumkan oleh EA dan Respawn.
-
Fokus pada Talent Lokal: Kembali ke akar dengan mencari bakat-bakat muda dari Indonesia atau Asia Tenggara untuk dibina dari level dasar jika mereka memutuskan kembali.
Ringkasan Performa RRQ di ALGS 2026 Sapporo

Perjalanan RRQ di panggung dunia berakhir di babak Lower Bracket Semifinal (LB Round 1). Meskipun menunjukkan mekanik yang luar biasa, “Sang Raja” harus terhenti setelah gagal menembus posisi 10 besar untuk melaju ke babak selanjutnya.
-
Peringkat Akhir: 12 (Lower Bracket Semifinal)
-
Total Poin: 31 Poin
-
Selisih Poin: Hanya terpaut 2 poin dari batas aman (cutoff) untuk lolos ke Lower Bracket Final (Posisi 10 besar yang dipegang oleh SYRALE dengan 33 poin).
-
Roster: sato_kohai (C), Noelsang, mosu.
-
Staf: yanlys (Pelatih), zona (Analis).
Statistik Berdasarkan Infografis
-
Standings Lower Bracket Semifinal: Grafik menunjukkan persaingan ketat di papan tengah. RRQ berada di posisi ke-12 dengan 31 poin, bersaing sengit dengan tim-tim besar lainnya seperti RIDDLE dan Team Liquid. Margin yang sangat tipis (2 poin) menjadi bukti betapa kompetitifnya turnamen di Sapporo tersebut.
-
Akumulasi Poin (6 Rounds): RRQ memulai dengan fluktuatif. Puncak performa mereka terjadi pada Game 4 dengan perolehan poin yang signifikan (estimasi 10 poin dari kills dan penempatan). Namun, pada dua ronde terakhir (Game 5 & 6), mereka kesulitan mendapatkan poin eliminasi yang besar, sehingga posisi mereka tersalip oleh tim lain di saat-saat terakhir.
Perpisahan ini mengakhiri masa bakti singkat namun bersejarah bagi RRQ di skena Apex Legends internasional tahun 2026. Meskipun singkat, kehadiran mereka di ALGS Championship 2026 membuktikan bahwa nama besar Indonesia masih memiliki taji untuk bersaing di level tertinggi, terlepas dari hasil akhir yang belum memihak.
VIVA RRQ!
