Jakarta, 5 Juni 2026 — Dunia esports Mobile Legends: Bang Bang (MLBB) Asia Tenggara tengah diguncang prahara besar. Organisasi raksasa yang selama bertahun-tahun menyandang gelar “Raja dari Segala Raja” (King of Kings), Rex Regum Qeon (RRQ), kini berada di titik terendah dalam sejarah panjang mereka. Kegagalan total skuad RRQ Hoshi di kancah MPL Indonesia Season 17, ditambah dengan dinamika problematik yang menyelimuti tim cabang Malaysia mereka, RRQ Tora, membuat sang Co-Founder & CEO, Andrian Pauline (yang akrab disapa Pak AP), harus mengambil langkah drastis.
Dalam pernyataan terbarunya yang beredar luas di berbagai platform komunitas, Pak AP secara terbuka mengakui bahwa timnya sedang “hancur” dan membutuhkan perombakan total. Lebih mengejutkan lagi, ia mengisyaratkan kebutuhan akan “dana segar” untuk mengakuisisi pemain-pemain bintang demi mengembalikan kejayaan sang Raja di musim yang akan datang.

Berikut adalah rincian lengkap dari runtuhnya dominasi RRQ di pertengahan tahun 2026 ini, berdasarkan data faktual dan rekam jejak mereka sepanjang musim.
Bencana Tak Terduga di MPL ID Season 17
Bagi RRQ Kingdom (sebutan untuk basis penggemar RRQ), MPL Indonesia Season 17 adalah sebuah mimpi buruk yang nyata. RRQ Hoshi, yang sejatinya memiliki rekam jejak gemilang sebagai pengoleksi empat gelar juara MPL ID (Season 2, 5, 6, dan 9), harus menelan pil pahit setelah gagal lolos ke babak Playoffs dan mengakhiri Regular Season dengan catatan rekor yang sangat memalukan: 2 Kemenangan dan 14 Kekalahan.
Musim ini, manajemen RRQ melakukan perombakan roster yang mengejutkan banyak pihak. Membawa jajaran pelatih baru yang diisi oleh Khezcute (Coach), NMM (Asst Coach), dan Pauuu (Analyst), serta mendatangkan line-up pemain seperti Superkenn (Jungler), Idok (Roamer), Rinz (Midlane), Supertoyy (Goldlane), Kuroky (Goldlane), Superdann (Explane), dan Yehezkiel (Midlane). Harapannya, darah muda dan strategi baru ini bisa membawa angin segar. Namun, realita di Land of Dawn berkata lain.
Sepanjang sembilan minggu babak Regular Season, RRQ Hoshi seolah kehilangan taringnya. Berikut adalah catatan kelam perjalanan mereka di musim ini:
-
Week 1: Dibuka dengan kekalahan telak 0-2 dari tim debutan NAVI, disusul kekalahan 0-2 dari rival abadi mereka, ONIC Esports.
-
Week 2 & 3: Dihempaskan oleh Team Liquid ID (TLID) 0-2, Alter Ego (AE) 1-2, dan Geek Fam 1-2.
-
Week 4 & 5: Rentetan kekalahan berlanjut saat melawan EVOS Glory (0-2), Bigetron Alpha (1-2), dan DEWA United (0-2).
-
Week 6: Secercah harapan sempat muncul ketika RRQ berhasil pecah telur dengan kemenangan 2-0 melawan Bigetron Alpha. Sayangnya, momentum ini langsung dipatahkan oleh ONIC di hari berikutnya dengan skor 0-2.
-
Week 7 & 8: Harapan untuk lolos ke Playoffs resmi pupus setelah mereka kembali dilibas berturut-turut oleh EVOS (0-2), Geek Fam (0-2), TLID (0-2), dan NAVI (0-2).
-
Week 9: Di minggu penutup, RRQ Hoshi hanya mampu mencuri satu kemenangan hiburan melawan Alter Ego (2-1), sebelum akhirnya menutup musim dengan kekalahan 1-2 dari DEWA United pada tanggal 24 Mei 2026.
Kegagalan ini tidak hanya mencoreng nama besar RRQ Hoshi, tetapi juga memicu gelombang kritik pedas dari para analis dan penggemar terkait chemistry tim yang sama sekali tidak terbentuk sepanjang musim.
Dinamika RRQ Tora: Sang Harimau Malaya yang Masih Tertatih
Selain krisis di Indonesia, ekspansi RRQ di Malaysia melalui tim RRQ Tora juga menjadi sorotan tajam. “Tora”, yang diambil dari bahasa Jepang yang berarti Harimau, diharapkan bisa mendominasi skena MPL Malaysia Season 17. Dipimpin oleh jajaran staf seperti Dex (Performance Coach) dan Benny (Manager), RRQ Tora memang berhasil menembus babak Playoffs (berbeda nasib dengan Hoshi), namun performa mereka dinilai belum stabil dan gagal memenuhi ekspektasi sebagai tim penantang gelar juara.
Kekecewaan penggemar semakin memuncak terkait kebijakan transfer antar-divisi yang dilakukan oleh manajemen RRQ. Banyak pihak menyayangkan keputusan blunder dari manajemen yang merombak pemain-pemain potensial secara tiba-tiba.
Dalam sebuah unggahan highlight di YouTube, kolom komentar dibanjiri oleh protes dari RRQ Kingdom. Salah satu penggemar menyuarakan sentimen mayoritas:
“Buat manajemen RRQ next season lebih cermat untuk memilih player, jangan sering blunder juga untuk buang pemain. Sangat disayangkan Hazle kemarin harus dilepas padahal potensinya sangat besar buat Jungler RRQ. Dan satu lagi yang bikin agak kecewa, si Dyrennn pun harus dimasukkan ke Tora.”
Keputusan melepas Hazle dan memindahkan Explaner berbakat seperti Dyrennn ke Malaysia dinilai sebagai langkah yang tidak masuk akal, terutama ketika RRQ Hoshi di Indonesia sedang mengalami krisis identitas dan sangat membutuhkan pemain berpengalaman yang mengerti kultur tim.
Pak AP Turun Gunung: Rombak Total dan Kebutuhan Dana Segar
Merespons kehancuran di dua front tersebut, Andrian Pauline (Pak AP) tidak tinggal diam. Sebagai sosok yang mendirikan RRQ sejak tahun 2013, ia menyadari bahwa krisis di pertengahan 2026 ini adalah salah satu yang terburuk yang pernah dihadapinya.
Melalui sebuah konten update esports yang viral, Pak AP melontarkan pernyataan yang mengisyaratkan langkah agresif untuk musim depan. Dalam kutipan yang beredar, ia menyatakan: “I’ve contacted other team CEOs to buy…” (Saya telah menghubungi CEO tim lain untuk membeli…)
Pernyataan terpotong ini langsung memicu spekulasi liar di komunitas MLBB. Jelas bahwa Pak AP sedang melakukan gerilya untuk melakukan buyout (pembelian kontrak) terhadap pemain-pemain bintang (Grade S) dari tim rival, baik di Indonesia maupun Filipina, demi membangun ulang RRQ Hoshi dari nol.
Namun, perombakan besar-besaran, apalagi yang melibatkan pembelian pemain bintang dan pelatih kelas atas, tentu tidak murah. Harga buyout di franchise liga MPL saat ini bisa menyentuh angka miliaran rupiah per pemain. Oleh karena itu, wajar jika narasi “butuh dana segar” menjadi agenda utama bagi manajemen RRQ saat ini. Organisasi dituntut untuk mencari investor baru atau mengalokasikan ulang anggaran belanja mereka untuk memastikan “Mega Transfer” ini bisa terealisasi sebelum jendela transfer musim berikutnya ditutup.
Manajemen dituntut untuk melakukan evaluasi menyeluruh—bukan hanya pada level pemain, tetapi juga pada jajaran kepelatihan (Khezcute, NMM, Pauuu) yang terbukti gagal meracik strategi yang kompetitif.
Mampukah Sang Raja Kembali Bertahta?
Musim kompetisi awal tahun 2026 telah menjadi tamparan keras bagi Rex Regum Qeon. Rekor 2-14 yang ditorehkan RRQ Hoshi di MPL ID Season 17 akan tercatat sebagai noda hitam dalam sejarah panjang tim. Di sisi lain, RRQ Tora di Malaysia masih harus membuktikan bahwa mereka bukan sekadar “cabang buangan”, melainkan tim harimau buas yang ditakuti di negerinya sendiri.
Pernyataan tegas Pak AP untuk merombak total tim dan memburu pemain baru dengan dana segar adalah sinyal bahwa RRQ tidak akan menyerah pada keadaan. Namun, uang saja tidak akan cukup. Manajemen harus belajar dari blunder transfer musim ini, mendengarkan feedback dari komunitas, dan kembali fokus pada pembentukan identitas serta chemistry tim yang solid.
Bagi RRQ Kingdom, saat ini yang bisa dilakukan hanyalah bersabar dan menanti pergerakan magis dari manajemen di bursa transfer. Apakah dana segar yang dikumpulkan Pak AP mampu membawa pulang kembali mahkota yang hilang? Ataukah masa kejayaan “Raja dari Segala Raja” memang sudah benar-benar berakhir? Jawabannya baru akan terungkap di musim kompetisi selanjutnya.
