Jakarta, 18 Desember 2025 – Jagat esports Mobile Legends: Bang Bang (MLBB) dunia kembali gempar. Bukan hanya karena semakin dekatnya gelaran akbar M7 World Championship yang akan dihelat di Jakarta pada Januari 2026 mendatang, melainkan karena drama hasil pengundian (drawing) grup yang baru saja berlangsung. Di tengah sorotan lampu panggung dan ketegangan para perwakilan tim dunia, sosok legenda hidup EVOS Legends, Ihsan “Luminaire” Besari, menjadi pusat perhatian.

Pria yang akrab disapa “Ihsan” ini dipercaya menjadi salah satu eksekutor pengundian untuk fase Swiss Stage. Siapa sangka, tangan dinginnya—yang kini dijuluki netizen sebagai “Tangan Wangy”—menciptakan skenario “neraka” bagi tim-tim unggulan dari negara tetangga. Luminaire secara harfiah memaksa dua negara kekuatan utama MLBB, Filipina dan Malaysia, untuk menjalani “Civil War” atau perang saudara di babak paling awal turnamen. Sontak, nama Luminaire kembali meroket, tidak sebagai pemain di Land of Dawn, melainkan sebagai sosok yang menentukan nasib tim-tim raksasa dunia lewat sebuah bola undian.
Kronologi “Tangan Wangy” dan Insiden Civil War M7
Peristiwa ini bermula pada acara M7 Group Draw Show yang disiarkan langsung ke seluruh dunia pada pertengahan Desember 2025. Moonton, selaku pengembang game, mengundang dua ikon legendaris Indonesia, Ihsan “Luminaire” Besari dan Muhammad “Wannn” Ridwan, untuk mengambil undian yang menentukan siapa lawan siapa di ronde pertama Swiss Stage.

Ketegangan memuncak ketika pot undian untuk tim-tim unggulan dibuka. Luminaire, dengan gaya santainya yang khas, mengambil bola undian yang ternyata berisi nama Aurora Gaming (PH). Tak lama kemudian, tangan “ajaib” Luminaire kembali merogoh pot dan mengeluarkan bola berisi nama Team Liquid PH.
Sontak, venue acara bergemuruh. Dua raksasa Filipina, yang digadang-gadang sebagai kandidat kuat juara, harus saling “bunuh” di pertandingan pembuka. Pertemuan dini antara Aurora dan Liquid PH ini adalah mimpi buruk bagi region Filipina, karena salah satu dari mereka harus memulai turnamen dengan rekor kekalahan (0-1), yang akan mempersulit langkah menuju babak Knockout.
Namun, “kejahilan” takdir lewat tangan Luminaire belum selesai. Seolah belum cukup membuat Filipina panas dingin, Luminaire kembali menciptakan skenario serupa untuk wakil Malaysia. Ia mempertemukan Selangor Red Giants (SRG)—sang juara bertahan yang sedang on-fire—dengan kompatriotnya, CG Esports.
Dua insiden “Civil War” ini—Filipina vs Filipina dan Malaysia vs Malaysia—di babak pertama Swiss Stage dianggap sebagai keuntungan besar bagi tim tuan rumah, Indonesia. Netizen Indonesia ramai-ramai memuji tangan Luminaire sebagai “Tangan Wangy” (harum/beruntung) karena berhasil membuat rival-rival terberat Indonesia harus saling menjegal di awal, sementara tim Indonesia seperti Alter Ego dan ONIC Esports mendapatkan lawan yang di atas kertas lebih mudah diatasi, seperti Aurora Turkiye.
Reaksi komunitas pun meledak. Di media sosial, meme tentang Luminaire yang “menyelamatkan” Indonesia lewat undian bertebaran. “Bukan cuma jago shotcall di dalam game, Luminaire bahkan nge-shotcall bracket turnamen,” canda salah seorang penggemar di kolom komentar siaran langsung.
Profil Sang Profesor: Ihsan “Luminaire” Besari
Terlepas dari kehebohan undian M7, Ihsan Besari Kusudana bukanlah nama baru. Ia adalah salah satu pilar terpenting dalam sejarah kompetitif Mobile Legends Indonesia. Lahir di Jakarta pada 10 Februari 2000, Ihsan dikenal dengan in-game name (IGN) Luminaire.

Di masa jayanya, ia dijuluki sebagai “El Profesor”. Julukan ini bukan tanpa alasan. Luminaire dikenal bukan karena mekanik jari yang super cepat ala jungler muda, melainkan karena kecerdasan makro, kemampuan membaca peta, dan kepemimpinannya (shotcalling) yang luar biasa tenang namun mematikan. Ia adalah otak di balik strategi tim, sosok yang mengatur tempo permainan, kapan harus menyerang, dan kapan harus mundur.
Kewibawaannya di dalam game membuat ia disegani kawan maupun lawan. Ia adalah tipe pemain yang bisa menyatukan ego pemain-pemain bintang lainnya—seperti Wannn, Oura, dan Rekt—menjadi satu kesatuan tim yang solid.
Perjalanan Karier: Dari Warnet ke Puncak Dunia
Karier Luminaire tidak dimulai dengan instan. Sebelum terjun ke Mobile Legends, ia adalah pemain game FPS seperti Point Blank dan Lost Saga. Bakat kompetitifnya sudah terlihat sejak masa sekolah, di mana ia rela menghabiskan waktu berjam-jam di warnet untuk mengasah kemampuan.
Karier profesionalnya di Mobile Legends dimulai bersama tim The Prime Esports pada tahun 2019. Meskipun saat itu The Prime belum menjadi tim papan atas, performa individu Luminaire sebagai support/midlaner yang cerdik menarik perhatian manajemen EVOS Esports.
Pada pertengahan 2019, ia direkrut oleh EVOS Legends. Di sinilah sejarah emas dimulai. Bersama roster legendaris yang dikenal dengan sebutan W.O.R.L.D (Wannn, Oura, Rekt, Luminaire, Donkey), Ihsan menjelma menjadi roamer/support terbaik di dunia.
Tahun 2019 menjadi tahun pembuktian. EVOS Legends di bawah komandonya berhasil mematahkan kutukan “Runner-up” dengan menjuarai MPL Indonesia Season 4. Tak berhenti di situ, mereka terbang ke Malaysia untuk mewakili Indonesia di ajang M1 World Championship yang pertama. Hasilnya? Sejarah mencatat EVOS Legends sebagai Juara Dunia Mobile Legends pertama, dan Luminaire adalah kepingan puzzle yang menyempurnakan tim tersebut.
Sempat memutuskan rehat (vakum) setelah M1 karena alasan pendidikan dan kejenuhan, EVOS Legends langsung terasa pincang tanpa kehadirannya. Ketika ia kembali (“un-retire”) di MPL ID Season 7, dampak instan langsung terasa. EVOS Legends yang sempat terseok-seok kembali bangkit dan berhasil menjadi juara MPL ID Season 7, di mana Luminaire dinobatkan sebagai Finals MVP.
Daftar Prestasi Ihsan “Luminaire” Besari
Untuk memberikan gambaran lengkap mengenai kehebatan sang legenda, berikut adalah deretan prestasi valid dan faktual yang pernah diraih Ihsan Luminaire sepanjang karier profesionalnya hingga gantung device:
Prestasi Tim (Team Achievements):
-
Juara 1 – M1 World Championship (2019) – Gelar Juara Dunia Pertama untuk Indonesia.
-
Juara 1 – MPL Indonesia Season 4 (2019).
-
Juara 1 – MPL Indonesia Season 7 (2021).
-
Juara 1 – Indonesia Esports National Championship (IENC) 2019.
-
Runner-up – MPL Indonesia Season 5 (2020).
-
Runner-up – SEA Games 2021 Vietnam (Medali Perak untuk Timnas Indonesia).
-
Peringkat 3 – MPL Indonesia Season 8 (2021).
-
Peringkat 3 – MPL Indonesia Season 3 (bersama The Prime).
Prestasi Individu (Individual Awards):
-
Finals MVP – MPL Indonesia Season 7 (2021).
-
Best Teammate – Pilihan pemain profesional (sering disebut sebagai rekan setim idaman karena komunikasi yang baik).
-
Kreator Konten Sukses – Jutaan pengikut di YouTube, Instagram, dan TikTok (per data Desember 2025).
Kehidupan Pasca-Pro Player: Streamer dan Ikon Komunitas
Memasuki tahun 2024 dan 2025, Ihsan Luminaire telah resmi pensiun dari skena kompetitif. Namun, ia tidak meninggalkan dunia yang membesarkan namanya. Ia bertransformasi menjadi salah satu streamer dan konten kreator esports terbesar di Indonesia.
Analisisnya saat restream pertandingan MPL atau turnamen internasional selalu ditunggu-tunggu. Berbeda dengan komentator resmi, Luminaire memberikan pandangan “dapur” tim profesional—membahas draft pick, rotasi, hingga kesalahan mikro yang luput dari mata penonton awam. Kejelian inilah yang membuatnya tetap relevan dan dihormati.
Kehadirannya di acara drawing M7 World Championship 2025 membuktikan bahwa pengaruhnya masih sangat besar. Moonton masih menganggapnya sebagai wajah Mobile Legends Indonesia. Dan kejadian “Civil War” yang ia ciptakan lewat undian tersebut semakin mengukuhkan statusnya sebagai sosok yang, entah bagaimana caranya, selalu berhasil memberikan keuntungan bagi tim Indonesia, baik saat ia memegang HP di panggung kompetisi, maupun saat memegang bola undian di atas panggung seremoni.
Luminaire The Phenomenon
Ihsan “Luminaire” Besari bukan sekadar mantan pemain. Ia adalah fenomena. Dari seorang anak warnet yang hobi bermain Lost Saga, menjadi Juara Dunia M1, hingga kini menjadi figur sentral yang menentukan nasib tim-tim dunia di M7 lewat “tangan wangi”-nya.
Insiden “Civil War” tim Filipina dan Malaysia di M7 World Championship 2025 mungkin dianggap sebagai keberuntungan semata bagi sebagian orang. Namun bagi penggemar esports Tanah Air, itu adalah bukti bahwa tuah “El Profesor” tidak pernah luntur. Ia mungkin sudah tidak lagi berteriak memimpin perang di Land of Dawn, tetapi kontribusinya untuk memuluskan jalan tim Indonesia menuju tangga juara dunia—meski lewat jalur undian—tetaplah nyata. Kini, publik menanti apakah “bantuan” dari Luminaire ini bisa dimanfaatkan dengan baik oleh tim-tim Indonesia untuk membawa pulang piala M7 kembali ke Jakarta.
