JAKARTA – Atmosfer di Topgolf Cilandak, Jakarta Selatan, berubah menjadi campuran antara ketegangan, ketidakpercayaan, dan sorak-sorai histeris pada Jumat (12/12/2025). Apa yang seharusnya menjadi proses pengundian prosedural untuk babak Swiss Stage M7 World Championship berubah menjadi drama “berdarah” ketika legenda Mobile Legends Indonesia, Ihsan “Luminaire” Besari, secara tidak sengaja menciptakan skenario mimpi buruk bagi dua negara pesaing terberat Indonesia: Filipina dan Malaysia.

Dalam sebuah momen draw grup M7 Swiss yang kini viral di berbagai platform media sosial, tangan dingin Luminaire—yang didaulat untuk mengambil undian—seolah memiliki “magis” tersendiri. Ia tidak hanya mengundi lawan, tetapi secara harfiah mempertemukan tim-tim dari satu bendera negara untuk saling “membunuh” di laga pembuka. Sebuah skenario Civil War (perang saudara) tercipta, memicu perdebatan panas di komunitas MLBB global dan senyum lebar bagi para pendukung tuan rumah.
“Tangan Tuhan” atau Kutukan? Momen Kunci Drawing
Acara drawing M7 kali ini terasa spesial karena kehadiran dua ikon MLBB Indonesia, Wannn dan Luminaire, yang dipercaya menjadi eksekutor pengundian. Namun, sorotan utama jatuh pada Luminaire.
Ketegangan memuncak ketika pot undian untuk tim-tim unggulan Filipina dibuka. Filipina, yang selama bertahun-tahun menjadi tembok raksasa yang sulit diruntuhkan oleh tim manapun, mengirimkan dua wakil terkuatnya: Aurora Gaming PH dan Team Liquid PH. Keduanya adalah raksasa dengan basis penggemar masif dan track record juara.
Ketika Luminaire menarik bola undian untuk menentukan lawan Aurora Gaming PH, penonton menahan napas. Perlahan, ia membuka kertas tersebut dan logo yang muncul membuat seisi ruangan ternganga: Team Liquid PH.
“Saya berhenti! Saya keluar!” canda Luminaire di atas panggung, mengangkat tangan seolah tak percaya dengan apa yang baru saja ia lakukan. Ia baru saja memaksa dua tim terkuat Filipina untuk saling jegal di hari pertama, dalam format Best of One (BO1) yang sangat volatile dan tak kenal ampun.
Namun, “kekacauan” belum selesai. Seolah belum cukup mengguncang panggung, tangan Luminaire kembali beraksi saat giliran perwakilan Malaysia. Selangor Red Giants (SRG) OG, sang juara yang digadang-gadang sebagai kuda hitam paling berbahaya, membutuhkan lawan. Luminaire kembali merogoh pot undian, dan hasilnya kembali membuat gempar: CG Esports.
Lagi-lagi, perang saudara. Dua wakil Malaysia harus saling tikam di laga perdana.
“Ini gila. Tangan Luminaire benar-benar menciptakan Civil War untuk rival kita,” tulis salah satu netizen di kolom komentar siaran langsung yang dibanjiri ribuan reaksi shock.
Analisis Taktis: Mengapa “Civil War” Awal Ini Sangat Merugikan?
Bagi penonton kasual, pertemuan sesama negara di awal mungkin terlihat seru. Namun, dari kacamata analis dan pelatih, hasil drawing ini adalah bencana strategis bagi Filipina dan Malaysia.

Format Swiss Stage di M7 World Championship menggunakan sistem yang kejam. Di ronde pertama (Round 1), pertandingan dimainkan dengan format BO1 (Best of One). Artinya, tidak ada kesempatan kedua untuk adaptasi di game selanjutnya. Satu kesalahan kecil, satu blunder saat draft pick, atau satu momen kelengah di Lord pit bisa langsung mengirim tim kalah ke braket 0-1.
-
Tekanan Psikologis: Bertemu rekan senegara di panggung dunia selalu membawa beban mental ekstra. Tim biasanya berlatih bersama (scrim) dan mengetahui kartu as masing-masing. Pertandingan ini bukan lagi soal siapa yang lebih jago secara mekanik, tapi siapa yang mentalnya lebih siap “membunuh” saudara sendiri demi bertahan hidup.
-
Kerugian Regional: Idealnya, tim dari satu negara berharap tidak bertemu di awal agar bisa menyapu bersih poin dari negara lain. Dengan bertemunya Aurora vs Liquid dan SRG vs CG, sudah dipastikan Filipina dan Malaysia masing-masing akan memiliki satu tim yang terperosok ke “jurang” (braket kalah) sejak hari pertama. Ini mengurangi probabilitas mereka untuk mendominasi slot Upper Bracket di fase Knockout nanti.
-
Keuntungan Bagi Rival: Sementara Filipina dan Malaysia sibuk saling menghancurkan, tim-tim dari region lain bisa menyimpan strategi terbaik mereka. Mereka tidak perlu mengeluarkan “kartu rahasia” untuk melawan tim kuat di awal, karena tim kuat tersebut sedang sibuk melawani satu sama lain.
Berkah Bagi Tuan Rumah: Jalan Mulus ONIC dan Alter Ego?
Di sisi lain spektrum emosi, hasil drawing ini seolah menjadi angin segar bagi Indonesia. Setelah melihat “tangan ajaib” Luminaire mengacak-acak skenario lawan, nasib wakil tuan rumah, ONIC Esports dan Alter Ego, justru terlihat jauh lebih cerah.
Alter Ego, sang runner-up MPL ID, mendapatkan undian melawan Aurora Gaming (Turki). Di atas kertas, ini adalah matchup yang sangat menguntungkan bagi AE. Meskipun tim Turki seperti Fire Flux (sekarang di bawah bendera lain) pernah memberikan kejutan di masa lalu, level makro dan mikro tim Indonesia masih dianggap satu tingkat di atas region Turki. Ini adalah kesempatan emas bagi Udil dkk (jika roster masih sama) atau suksesornya untuk mengamankan poin pertama tanpa harus mengeluarkan seluruh strategi mereka.
Sementara itu, ONIC Esports mendapatkan privilege yang tak kalah mewah. Sang Raja Langit akan menghadapi tim jebolan Wildcard 2. Siapapun yang lolos dari fase Wild Card—entah itu tim dari Cina, MENA, atau Mongolia—biasanya akan kelelahan setelah bertarung habis-habisan di babak kualifikasi. ONIC bisa memanfaatkan keunggulan stamina dan waktu persiapan untuk mengamankan kemenangan cepat.
Luminaire sendiri, meski tampak gugup di panggung, sempat melontarkan komentar yang menyiratkan kelegaannya. “Agak takut, tapi ini bagus untuk Indonesia,” ujarnya. Komentar ini valid; dengan “sibuknya” tim Filipina dan Malaysia, jalan Indonesia menuju babak Knockout terasa sedikit lebih lapang di fase awal Swiss Stage ini.
Reaksi Komunitas: Konspirasi atau Keberuntungan Murni?
Tidak butuh waktu lama bagi komunitas esports untuk bereaksi. Tagar terkait M7 dan Luminaire langsung trending.
Di forum-forum diskusi seperti Reddit dan grup Facebook komunitas MLBB, reaksi terbelah. Fans Filipina meratapi nasib buruk mereka, menyebut drawing ini sebagai “mimpi buruk logistik” karena memaksa mereka melihat satu tim jagoan mereka kalah di hari pertama. Beberapa komentar bernada sarkas bahkan menyebut drawing ini “rigged” (diatur), meskipun tentu saja itu hanya gurauan semata mengingat prosesnya dilakukan secara transparan di depan kamera.
Di sisi lain, fans Indonesia merayakan momen ini sebagai “balasan” atas dominasi Filipina di tahun-tahun sebelumnya. “Luminaire bukan cuma support di dalam game, di meja drawing pun dia support Indonesia dengan nge-zoning lawan!” kelakar seorang fans di Twitter/X.
Namun, para analis mengingatkan agar Indonesia tidak terlena. Format Swiss Stage sangat dinamis. Tim yang kalah di ronde pertama (skor 0-1) akan bertemu sesama tim yang kalah. Artinya, tim Filipina atau Malaysia yang kalah di “Civil War” ini nantinya akan menjadi “singa terluka” di braket bawah, yang justru bisa menjadi ancaman sangat berbahaya bagi tim-tim medioker yang mungkin menang beruntung di ronde pertama.
Menatap Januari 2026: Panggung Pembuktian
M7 World Championship dijadwalkan akan memulai fase utamanya pada 10 Januari 2026. Venue di Jakarta dipastikan akan meledak dengan antusiasme penonton.
Drawing yang dilakukan Luminaire telah berhasil memanaskan suhu kompetisi bahkan sebelum peluit pertama dibunyikan. Narasi turnamen kini bukan lagi sekadar “Siapa yang akan juara?”, melainkan “Siapa yang akan selamat dari perang saudara?”.
Bagi Aurora PH dan Team Liquid PH, serta SRG dan CG Esports, laga pembuka nanti bukan sekadar pertandingan penyisihan. Ini adalah pertarungan harga diri. Siapa yang menang akan melenggang dengan kepala tegak, sementara yang kalah harus merangkak dari bawah dengan beban mental yang berat.
Dan di tengah semua kekacauan itu, ada ONIC dan Alter Ego yang kini memegang kendali nasib mereka sendiri. Dengan “bantuan” tak terduga dari tangan Luminaire, Indonesia memiliki start yang sangat ideal untuk memulangkan piala M-Series kembali ke Tanah Air.
Satu hal yang pasti: M7 World Championship di Jakarta nanti tidak akan kekurangan drama. Dan semuanya dimulai dari sebuah draw yang tak akan dilupakan oleh sejarah esports Mobile Legends.
