BANGKOK, 20 Desember 2025 – Gelaran SEA Games ke-33 yang seharusnya menjadi panggung kehormatan bagi Thailand sebagai tuan rumah, justru berakhir dengan catatan kelam di cabang olahraga esports. Ambisi mendulang emas di kandang sendiri ternoda oleh skandal kecurangan (cheating) dan perilaku tidak sportif yang melibatkan atlet tim esports nasional Arena of Valor (AoV) putri Thailand, Naphat “Tokyogurl” Warasin.

Insiden ini tidak hanya memicu kemarahan komunitas esports Asia Tenggara, tetapi juga memaksa federasi esports Thailand mengambil langkah drastis dengan menarik mundur seluruh tim putri mereka dari kompetisi. Berikut adalah ulasan lengkap mengenai kronologi dan fakta di balik peristiwa yang mengguncang SEA Games 2025.
Kronologi Skandal: Dari Gestur Vulgar hingga Software Ilegal
Peristiwa bermula pada pertandingan babak Upper Bracket kategori Arena of Valor (AoV) Wanita antara Thailand melawan Vietnam pada Senin, 15 Desember 2025. Kecurigaan publik pertama kali muncul bukan karena aspek teknis, melainkan perilaku.

Di tengah siaran langsung (livestream) yang disaksikan jutaan pasang mata, Naphat Warasin—yang dikenal dengan ign (in-game name) “Tokyogurl”—tertangkap kamera mengacungkan jari tengah ke arah kamera. Gestur vulgar ini sontak memicu kecaman luas sebagai tindakan unsportsmanlike conduct yang mencederai nilai Olimpiade. Namun, investigasi lebih lanjut mengungkap pelanggaran yang jauh lebih fatal.
Kecurigaan teknis mulai muncul setelah Thailand menelan kekalahan 0-3 dari Vietnam. Meski kalah, gerak-gerik Tokyogurl selama pertandingan dinilai tidak wajar. Rekan setimnya, Jomkhon “Givemeakiss” Phumsinin, dalam wawancara dengan media lokal Khaosod, mengungkapkan bahwa Tokyogurl sempat meminta meminjam perangkat rekannya dengan alasan ponselnya tidak memiliki koneksi internet—sebuah pelanggaran prosedur standar yang mengharuskan persetujuan wasit.
Investigasi dan Bukti Valid
Menanggapi laporan dan keributan di media sosial, Delegasi Teknis Esports SEA Games 2025 segera melakukan penyelidikan forensik terhadap perangkat yang digunakan. Pada tanggal 17 Desember 2025, Federasi Esports Thailand (TESF) dan panitia penyelenggara merilis temuan mengejutkan.
Naphat “Tokyogurl” Warasin dinyatakan terbukti melanggar Pasal 9.4.3 Buku Panduan Teknis Esports (Esports Technical Handbook).
-
Jenis Pelanggaran: Penggunaan perangkat lunak pihak ketiga (unauthorized third-party software) atau modifikasi perangkat keras (hardware modification) yang memberikan keuntungan tidak adil.
-
Modus Operandi: Meskipun detail teknis spesifik tidak dipublikasikan secara rinci untuk alasan keamanan sistem, spekulasi kuat dari komunitas dan analisis rekaman menunjukkan adanya indikasi penggunaan aplikasi screen-sharing atau remote access yang memungkinkan pihak lain mengendalikan atau memberi instruksi secara real-time.
Presiden TESF, Santi Lothong, dalam pernyataan resminya menyebut insiden ini sebagai “memalukan”. “Curang tapi tetap kalah, itu benar-benar memalukan,” ujarnya, menegaskan bahwa integritas tuan rumah telah dipertaruhkan.
Dampak dan Sanksi Berat: Karir Tamat
Konsekuensi dari rentetan pelanggaran ini sangat fatal, baik bagi atlet maupun tim nasional Thailand:
-
Diskualifikasi dan Mundurnya Timnas: Meskipun hanya satu pemain yang terbukti curang, TESF mengambil langkah tanggung jawab penuh (“collective accountability”) dengan menarik mundur seluruh Timnas AoV Putri Thailand dari sisa kompetisi. Keputusan ini otomatis memberikan kemenangan Walk Over (WO) kepada lawan-lawan mereka berikutnya.
-
Sanksi Seumur Hidup (Lifetime Ban): Garena, selaku penerbit game Arena of Valor, menjatuhkan sanksi terberat: larangan bermain seumur hidup bagi Naphat Warasin dalam seluruh turnamen resmi yang berada di bawah naungan Garena.
-
Pemecatan Organisasi: Talon Esports, organisasi profesional tempat Tokyogurl bernaung, segera memutus kontrak sang pemain. Pihak agensi juga menghentikan kerja sama, dan Naphat dilaporkan telah menghapus akun-akun media sosialnya (TikTok dan Facebook) pasca pengumuman sanksi.
-
Perubahan Peta Medali: Dengan mundurnya Thailand yang sebelumnya dijagokan, Timnas Vietnam melenggang mulus dan akhirnya berhasil menyabet medali emas setelah mengalahkan Laos 4-0 di babak Grand Final.

Refleksi bagi Esports Asia Tenggara
Kasus ini menjadi “tamparan keras” bagi ekosistem esports di Asia Tenggara yang sedang berkembang pesat. Sebagai tuan rumah SEA Games 2025, Thailand seharusnya menjadi teladan fair play. Insiden ini membuktikan bahwa pengawasan teknis dalam turnamen mobile esports perlu diperketat, mengingat celah kecurangan melalui perangkat lunak semakin canggih.
Bagi Indonesia dan negara peserta lainnya, peristiwa ini menjadi pengingat bahwa medali emas bukan segalanya jika diraih dengan cara yang mencederai sportivitas. Hingga penutupan SEA Games pada 20 Desember 2025, skandal “Tokyogurl” tetap menjadi topik pembicaraan utama, menutupi prestasi-prestasi lain yang diraih tuan rumah.
