SAMUT PRAKAN, THAILAND – Panggung megah PUBG Mobile Global Championship (PMGC) 2025 di Imperial World Samrong, Thailand, menjadi saksi bisu salah satu drama paling memilukan bagi komunitas esports Indonesia tahun ini. Alter Ego Ares, satu-satunya harapan Merah Putih di kancah tertinggi dunia ini, harus menelan pil pahit setelah perjalanan mereka di Group Stage (Group Green) berakhir antiklimaks.
Apa yang dimulai sebagai kisah heroik penuh harapan, berubah drastis menjadi mimpi buruk hanya dalam rentang waktu enam pertandingan terakhir. Dari posisi runner-up yang nyaman hingga terlempar ke posisi delapan, perjuangan Alter Ego Ares adalah definisi nyata dari betapa kejamnya kompetisi level dunia.

Awal yang Menjanjikan: Harapan di Puncak Klasemen
Perjalanan Rosemary dan kawan-kawan di Group Green dimulai pada Jumat, 28 November 2025, dengan optimisme tinggi. Sebagai satu-satunya wakil Indonesia, beban berat tentu ada di pundak mereka, namun Alter Ego Ares menjawab keraguan itu dengan performa yang solid di hari pertama.

Bermain taktis dan disiplin, skuad “Dewa Perang” ini berhasil mengamankan posisi keempat di klasemen sementara dengan raihan 46 poin. Permainan mereka rapi, rotasi yang terukur, dan kemampuan team fight yang tajam membuat para penggemar di Tanah Air mulai berani bermimpi tentang tiket langsung ke Grand Finals.
Puncak euforia terjadi pada hari kedua, Sabtu (29/11). Alter Ego Ares tampil beringas. Mereka seolah menemukan ritme terbaiknya, mendulang poin demi poin hingga mengumpulkan total 100 poin di akhir hari kedua. Posisi mereka melesat naik ke peringkat kedua (2nd Place), hanya di bawah Alpha Gaming yang memang tampil dominan.
Pada titik ini, tiket menuju Grand Finals yang digelar di Bangkok seolah sudah ada di depan mata. Dalam format PMGC 2025, tiga tim teratas dari setiap grup berhak lolos langsung ke babak utama. Dengan selisih poin yang cukup nyaman dari peringkat keempat, skenario Alter Ego Ares lolos langsung terasa sangat masuk akal. Media sosial riuh, tagar dukungan menggema, dan Nobar (nonton bareng) di berbagai kota di Indonesia dipenuhi sorak-sorai optimisme.
Minggu Kelabu: Petaka 5 Poin
Namun, di dunia Battle Royale, segalanya bisa berubah dalam sekejap mata. Hari ketiga, Minggu (30/11), yang seharusnya menjadi pesta penutupan manis, justru berubah menjadi “Minggu Kelabu”.
Entah apa yang terjadi pada mentalitas atau strategi tim, Alter Ego Ares tampil di luar dugaan—dalam konotasi terburuk. Dalam enam match (ronde) terakhir yang dimainkan, tim yang sehari sebelumnya begitu garang ini seolah kehilangan taringnya.
Statistik hari ketiga begitu menyakitkan untuk dilihat: 6 Game, 5 Poin.
Ya, Anda tidak salah membaca. Dari total enam pertandingan pamungkas yang sangat krusial, Alter Ego Ares hanya mampu menambahkan 5 poin ke dalam kantong mereka. Tidak ada penempatan posisi yang signifikan, tidak ada panen kill seperti biasanya. Mereka kerap tereliminasi di awal permainan (too soon), terjebak rotasi yang buruk, atau kalah dalam duel-duel mikro yang biasanya mereka menangkan.
Akibat performa katastrofi ini, posisi mereka di klasemen terjun bebas. Dari peringkat 2 yang bergengsi, mereka merosot tajam hingga akhirnya finis di peringkat 8 dengan total akhir 105 poin.
Sementara itu, tim-tim pesaing seperti Alpha Gaming (yang mengunci posisi puncak), Dplus, dan Goat Team berhasil memanfaatkan momentum untuk mengamankan tiga tiket emas menuju Grand Finals. Mereka tampil konsisten, sesuatu yang hilang dari Alter Ego Ares di hari penentuan.
Analisis: Tekanan Mental atau Strategi yang Terbaca?
Kegagalan mempertahankan konsistensi ini memunculkan banyak pertanyaan. Apakah tekanan sebagai sole representative (wakil tunggal) Indonesia terlalu berat bagi Rosemary, Alva, dan rekan-rekannya?
Di level PMGC, setiap kesalahan kecil dihukum dengan sangat keras. Tim-tim lawan di Group Green seperti Wolves Esports dan Gen.G bukanlah lawan yang bisa dianggap remeh. Tampaknya, pola rotasi Alter Ego Ares di hari ketiga sudah terbaca oleh lawan. Mereka kerap dicegat di jalur masuk zona, dipaksa bertarung dalam posisi yang tidak menguntungkan, dan gagal melakukan reset mental setelah hasil buruk di match awal hari ketiga.
Ketidakmampuan untuk bangkit dari bad game pertama di hari Minggu menjadi faktor kunci. Dalam esports, momentum adalah segalanya. Ketika satu game berjalan buruk, tekanan untuk menebusnya di game berikutnya menjadi berlipat ganda, yang seringkali justru memicu permainan yang terburu-buru dan tidak disiplin.
Jalan Terjal Menuju Kesempatan Terakhir
Meski gagal lolos langsung, harapan belum sepenuhnya musnah. Finis di peringkat 8 berarti Alter Ego Ares belum tereliminasi dari turnamen. Mereka, bersama tim-tim yang finis di peringkat 4 hingga 11, akan turun ke babak neraka yang sesungguhnya: Last Chance Stage.
Babak Last Chance akan digelar pada 6-7 Desember 2025, masih di venue yang sama. Namun, tensi di babak ini akan jauh lebih tinggi. Sebanyak 16 tim dari gabungan Group Green dan Group Red akan saling “bunuh” demi memperebutkan sisa tiket terakhir ke Grand Finals.
Ini adalah fase do or die. Tidak ada lagi ruang untuk kesalahan seperti “hanya dapat 5 poin sehari”. Di babak Last Chance, setiap peluru, setiap healing item, dan setiap langkah rotasi akan menentukan nasib mereka: pulang dengan tangan hampa atau melaju ke panggung utama di Siam Paragon, Bangkok.
Waktunya Bangkit, Ares!
Tragedi di Group Stage ini harus menjadi tamparan keras sekaligus pelajaran berharga bagi manajemen dan pemain Alter Ego Ares. Potensi mereka jelas ada—performa hari pertama dan kedua adalah buktinya. Masalahnya kini ada pada konsistensi dan mental baja untuk menghadapi hari penentuan.
Komunitas PUBG Mobile Indonesia kini harap-harap cemas. Rasa kecewa tentu ada, namun dukungan tidak boleh surut. Alter Ego Ares adalah satu-satunya benteng pertahanan #IndoPride di kancah dunia tahun ini.
Jatuh dari peringkat 2 ke peringkat 8 memang menyakitkan. Namun, narasi comeback dari “pecundang” di fase grup menjadi juara di babak Last Chance bukanlah hal baru dalam sejarah esports. Apakah Alter Ego Ares mampu menulis ulang takdir mereka dan mengubah tragedi Samut Prakan menjadi kisah kebangkitan epik?
Kita akan saksikan jawabannya pada 6 Desember nanti. Untuk saat ini, evaluasi total adalah harga mati.
Fakta Singkat Group Green PMGC 2025:
-
Lolos Grand Final (Top 3): Alpha Gaming, Dplus, Goat Team.
-
Lolos Last Chance (4-11): Wolves Esports, Inner Circle, Gen.G, Alter Ego Ares (#8), dll.
-
Eliminasi: 5 Tim terbawah.
-
Statistik Kunci AE Ares: Hari 1 (46 Poin), Hari 2 (54 Poin), Hari 3 (5 Poin).
