Dunia esports telah berkembang dari sekadar turnamen komunitas di warung internet menjadi industri bernilai miliaran dolar yang mengisi stadion-stadion terbesar di dunia. Di tengah ribuan pemain profesional yang datang dan pergi, hanya segelintir yang mampu mencapai status mitos. Mereka bukan hanya juara; mereka adalah anomali statistik, jenius mekanik, dan pemimpin yang mendefinisikan ulang cara game tersebut dimainkan.
Di tahun 2025 ini, perdebatan mengenai siapa “The GOAT” (Greatest of All Time) di setiap game esports seringkali memanas. Namun, berdasarkan pencapaian trofi, statistik individu, dan pengakuan dari rekan sesama profesional, kita dapat menarik benang merah siapa saja sosok yang layak duduk di takhta tertinggi.
Berikut adalah ulasan lengkap dan faktual mengenai para GOAT dari game esports terbesar saat ini.
1. League of Legends: Lee “Faker” Sang-hyeok

Julukan: The Unkillable Demon King Tim: T1 (Korea Selatan)
Tidak ada debat yang lebih singkat di dunia esports selain di League of Legends. Faker bukan hanya GOAT dari LoL; dia sering dianggap sebagai GOAT dari segala esports.
Memasuki akhir tahun 2025, dominasi Faker belum menunjukkan tanda-tanda melambat. Setelah mengamankan gelar World Championship (Worlds) keenamnya, Faker telah mematahkan setiap argumen skeptis tentang usianya. Ia adalah satu-satunya pemain yang memiliki longevity (masa karier) lebih dari satu dekade di level tertinggi tanpa pernah turun ke divisi dua.
Fakta menarik yang mengukuhkan statusnya adalah rekor champion pool-nya yang tak tertandingi. Di Worlds 2025, ia memecahkan rekor sebagai pemain dengan jumlah unique champions terbanyak yang dimainkan, menunjukkan bahwa ia tidak terbatas pada “meta” tertentu. Jika Michael Jordan adalah ikon basket, maka Faker adalah ikon esports global. Tanpa Faker, LoL mungkin tidak akan sebesar sekarang.
2. Dota 2: Johan “N0tail” Sundstein & Illya “Yatoro” Mulyarchuk

Status: The Most Decorated Captain vs The Perfect Carry
Di Dota 2, gelar GOAT terbagi menjadi dua era dan peran: kepemimpinan dan mekanik murni.
Secara historis, Johan “N0tail” Sundstein adalah Godfather Dota 2. Ia adalah kapten jenius di balik OG, satu-satunya tim yang memenangkan The International (TI) dua kali berturut-turut (TI8 dan TI9) dengan roster yang sama. N0tail mendefinisikan kekuatan persahabatan dan mentalitas di atas segalanya. Ia juga memegang rekor sebagai salah satu atlet esports terkaya sepanjang masa dari hadiah turnamen.
Namun, di era modern (2021-2025), nama Illya “Yatoro” Mulyarchuk (sekarang sering menggunakan nama Raddan) mencuat sebagai Carry terbaik yang pernah menyentuh mouse. Yatoro adalah alasan utama Team Spirit memenangkan dua gelar TI. Kemampuannya untuk melakukan rampage di panggung terbesar dan fleksibilitas hero pool-nya membuat banyak analis menyebutnya sebagai pemain dengan mekanik paling sempurna dalam sejarah Dota. Jika N0tail adalah otak terbaik, Yatoro adalah tangan Tuhan di Dota 2.
3. Counter-Strike 2 (CS2): Oleksandr “s1mple” Kostyliev

Julukan: The Undertaker Rival Terdekat: Mathieu “ZywOo” Herbaut
Transisi dari CS:GO ke CS2 sempat mengguncang peta kekuatan dunia, namun s1mple tetap menjadi standar emas. Meskipun sempat rehat sejenak, kembalinya s1mple ke skena kompetitif dan performanya yang konsisten membuatnya tetap dipilih oleh mayoritas pro player sebagai GOAT di tahun 2025.
Perdebatan di CS selalu berkutat antara s1mple dan ZywOo. ZywOo (Vitality) memiliki statistik yang seringkali lebih efisien dan gaya bermain yang “pintar”, namun s1mple memiliki “X-factor” dan dampak emosional yang lebih besar. S1mple dikenal mampu memenangkan ronde yang secara matematis mustahil dimenangkan. Gelar Major yang ia raih bersama NAVI dan puluhan medali MVP (Most Valuable Player) menjadi bukti konkret. Di mata para fans dan pemain pro, s1mple adalah sosok yang memiliki skill ceiling (batas kemampuan) tertinggi dalam sejarah first-person shooter.
4. Valorant: Timofey “Chronicle” Khromov & Erick “aspas” Santos

Status: The Trophy Collector vs The Final Boss
Sebagai game yang lebih muda, Valorant memiliki perdebatan GOAT yang sangat dinamis. Namun, dua nama berdiri di puncak: Chronicle dan aspas.
Chronicle (Fnatic) adalah definisi dari konsistensi dan fleksibilitas. Ia adalah satu-satunya pemain yang memenangkan tiga trofi internasional berbeda (Masters Berlin, LOCK//IN, dan Masters Tokyo). Kehebatannya bukan hanya pada aim, tapi pada kemampuannya memainkan peran apa saja—dari Duelist, Initiator, hingga Controller—di level dunia. Ia adalah pemain tim yang sempurna.
Di sisi lain, aspas (Leviatán) adalah monster statistik. Ia dianggap sebagai Duelist terbaik yang pernah ada. Aspas memiliki aura “Final Boss”; ketika ia sedang on fire, hampir mustahil untuk menghentikannya. Rekor First Blood dan Average Combat Score (ACS) miliknya konsisten di angka yang tidak masuk akal. Jika Anda membutuhkan satu pemain untuk memenangkan satu pertandingan hidup-mati, mayoritas akan memilih aspas.
5. Mobile Legends: Bang Bang (MLBB): Karl “KarlTzy” Nepomuceno

Julukan: The Young Goat / The Grand Slam Champion Tim: Team Liquid PH (sebelumnya ECHO/Bren)
Di ranah Mobile Legends, perdebatan dulu sering melibatkan nama Lemon (RRQ) karena legacy-nya. Namun, secara faktual dan prestasi, KarlTzy kini berdiri sendirian di puncak gunung.
Tahun 2025 menjadi tahun penahbisan KarlTzy. Ia menjadi pemain pertama dalam sejarah yang melengkapi koleksi piala utamanya (Grand Slam). Ia telah memenangkan M-Series dua kali (M2 dengan Bren Esports, M4 dengan ECHO) dengan dua peran yang berbeda—pertama sebagai Hyper Carry yang agresif (Lancelot-nya legendaris), dan kedua sebagai Tank Jungler yang taktis dan dewasa.
Kemenangannya di turnamen MSC x Esports World Cup (EWC) 2025 di Riyadh semakin memvalidasi statusnya. KarlTzy telah berevolusi dari seorang anak ajaib yang mekaniknya tinggi menjadi seorang jenderal lapangan (shotcaller) yang tenang. Tidak ada pemain lain di MLBB yang memiliki kombinasi trofi M-Series ganda dan kemampuan adaptasi meta selevel dirinya.
6. PUBG Mobile: Zhu “Paraboy” Bocheng

Julukan: The King of PUBG Mobile Tim: Nova Esports (Tiongkok)
Dalam genre Battle Royale mobile, satu nama telah menjadi sinonim dengan kehebatan: Paraboy. Meskipun banyak bintang baru bermunculan dari Brasil (Alpha7) atau Indonesia (Bigetron/Alter Ego), Paraboy tetap menjadi “dewa” yang dihormati secara global.
Paraboy dikenal karena akurasi tembakannya yang menyerupai aimbot (program curang), namun itu murni skill jari-jarinya. Ia mendominasi Peacekeeper Elite League (PEL) di Tiongkok, liga paling kompetitif di dunia, selama bertahun-tahun. Koleksi piala PMGC (PUBG Mobile Global Championship) dan medali emas Asian Games menjadi bukti sahih.
Di tahun 2025, meskipun kompetisi semakin ketat, Paraboy tetap menjadi standar emas untuk mechanics (mekanik), spray control (pengendalian tembakan), dan game sense. Dia bukan hanya pemain terbaik; dia adalah wajah dari PUBG Mobile di seluruh dunia.
7. Free Fire: Bruno “Nobru” Goes & “Moshi”

Status: The Icon vs The Competitive Beast
Free Fire memiliki ekosistem yang unik di mana popularitas dan skill kompetitif kadang memiliki rajanya masing-masing.
Untuk gelar “Wajah Free Fire”, Nobru dari Brasil tidak tergantikan. Ia adalah juara dunia (FFWS 2019) yang kemudian mendirikan organisasinya sendiri (Fluxo) dan membawanya kembali ke panggung dunia. Nobru adalah jembatan antara pro player dan influencer tersukses dalam sejarah game mobile.
Namun, jika bicara soal dominasi kompetitif murni di tahun 2024-2025, para pemain Thailand, khususnya Moshi (Buriram United Esports), layak disebut sebagai GOAT modern. Thailand telah menjadi kiblat Free Fire dalam beberapa tahun terakhir, dan Moshi adalah otak serta otot di balik dominasi timnya. Kecerdasannya dalam rotasi dan clutch di momen genting menjadikannya pemain yang paling ditakuti di sirkuit global saat ini.
Apa yang Membuat Seseorang Menjadi GOAT?
Dari ulasan di atas, terlihat pola yang jelas. Menjadi GOAT di tahun 2025 bukan lagi sekadar soal siapa yang punya jari paling cepat.
Faker, N0tail, s1mple, dan KarlTzy mengajarkan kita bahwa adaptasi adalah kunci. Game selalu berubah; patch baru datang, hero baru dirilis, dan strategi berevolusi. Para GOAT ini adalah mereka yang mampu bertahan di puncak gelombang perubahan tersebut, bukan yang tenggelam karenanya.
Mereka adalah inspirasi bagi jutaan pemain muda yang bermimpi, bahwa dengan dedikasi, disiplin, dan sedikit kejeniusan, seseorang bisa menjadi abadi dalam sejarah digital.
