BANGKOK, 28 November 2025 – Atmosfer kompetitif PUBG Mobile Global Championship (PMGC) 2025 telah mencapai titik didihnya. Setelah tiga hari penuh kejutan di babak pembuka yang baru diperkenalkan tahun ini, “The Gauntlet“, tirai panggung utama akhirnya tersibak lebar. Sementara tujuh tim elit telah mengamankan tiket emas langsung ke Grand Finals di Siam Paragon, 32 tim lainnya—termasuk perwakilan harapan Indonesia—harus bersiap menghadapi fase paling brutal dalam sejarah kompetisi ini: Group Stage, yang resmi dimulai hari ini di Imperial World Samrong, Thailand.

PMGC 2025 bukan sekadar turnamen; ini adalah evolusi dari format battle royale yang memaksa tim untuk beradaptasi atau pulang lebih awal. Dengan total hadiah (prize pool) mencapai $3.000.000 USD, setiap peluru yang ditembakkan di Bangkok memiliki harga yang mahal.
Rekap The Gauntlet: Kejutan R8 Esports dan Dominasi Tiongkok-Brasil
Babak “The Gauntlet” yang berlangsung pada 24-26 November kemarin menjadi eksperimen format paling sukses dari Krafton tahun ini. Mempertemukan 16 tim juara dan runner-up regional dalam satu arena sink-or-swim, babak ini menjanjikan tiket instan ke Grand Finals bagi 7 tim teratas. Sisanya? Mereka harus turun kasta ke Group Stage, bergabung dengan tim-tim kualifikasi lainnya untuk bertarung di lumpur.
Hasilnya di luar dugaan banyak analis. R8 Esports dari Arab Saudi keluar sebagai standout performer, memuncaki klasemen dan membungkam skeptisisme publik terhadap tim-tim MENA. Dengan permainan disiplin di map Rondo dan Erangel, R8 berhasil mengungguli raksasa global yang biasanya mendominasi berita utama.
“Kami datang bukan untuk sekadar berpartisipasi. The Gauntlet adalah bukti bahwa peta kekuatan PUBG Mobile telah bergeser,” ujar pelatih R8 dalam sesi wawancara pasca-pertandingan.
Namun, kekuatan tradisional tetap menancapkan kuku mereka. ThunderTalk Gaming (TT) dari Tiongkok dan Alpha7 (A7) dari Brasil—dua tim yang selalu menjadi favorit juara—berhasil mengamankan posisi di 7 besar. Mereka ditemani oleh Kara Esports, MadBulls, ULF Esports, dan sang penguasa Asia Tenggara dari Vietnam, D’Xavier (DX).
Ketujuh tim ini kini memiliki kemewahan waktu. Mereka bisa beristirahat dan membedah strategi lawan hingga Grand Finals dimulai pada 12 Desember mendatang. Sebaliknya, bagi tim seperti DRX (Korea Selatan) dan Vampire Esports (Thailand) yang gagal menembus 7 besar, mimpi buruk baru saja dimulai. Mereka “terdegradasi” ke Group Stage dan harus bertarung mulai hari ini.
Group Stage: Format Baru, Tekanan Baru
Mulai hari ini, 28 November hingga 4 Desember 2025, mata dunia tertuju pada Group Stage. Sebanyak 32 tim telah dibagi menjadi dua grup besar (Grup A dan Grup B) yang masing-masing berisi 16 tim. Komposisi ini terdiri dari 9 tim yang “turun” dari The Gauntlet, ditambah 23 tim yang lolos melalui PMGC Points dan kualifikasi regional.
Formatnya sederhana namun kejam:
-
Top 3 dari setiap grup akan lolos langsung ke Grand Finals.
-
Posisi 4 hingga 11 akan masuk ke babak Last Chance.
-
Posisi 12 ke bawah? Mereka akan langsung angkat koper dari Thailand.
Tidak ada lagi kesempatan kedua bagi tim yang finis di dasar klasemen. Inilah yang membuat Group Stage tahun ini terasa jauh lebih mencekam dibandingkan edisi “League Stage” tahun-tahun sebelumnya.
Harapan Merah Putih: Ujian Berat Alter Ego Ares
Bagi penggemar PUBG Mobile di Indonesia, sorotan utama tertuju pada Alter Ego Ares. Sebagai salah satu wakil tersisa yang membawa panji “Indopride”, beban berat ada di pundak mereka.
Alter Ego Ares datang dengan status yang disegani di Asia Tenggara, namun panggung global adalah binatang yang berbeda. Kegagalan beberapa tim SEA lainnya di The Gauntlet menjadi peringatan keras bahwa gaya bermain agresif khas Asia Tenggara sering kali bisa diredam oleh permainan taktis tim-tim Eropa dan Tiongkok.
Analis esports lokal memprediksi bahwa kunci lolosnya Alter Ego Ares terletak pada konsistensi rotasi di map Miramar. Dengan adanya perubahan meta kendaraan dan zona di patch terbaru, tim yang mampu mengamankan compound tengah lebih awal cenderung mendominasi late game. Fans Indonesia tentu berharap “Rosemary” dan kawan-kawan mampu menunjukkan performa “miracle” mereka sejak hari pertama, menghindari jurang Last Chance yang sangat berisiko.
“Grup ini neraka,” tulis salah satu analis di Twitter/X. “Ada tim buangan Gauntlet yang sedang marah, dan ada tim regional yang lapar. Alter Ego tidak boleh telat panas.”
Peta Persaingan: Siapa yang Harus Diwaspadai?
Selain Alter Ego Ares, Group Stage ini dihuni oleh monster-monster yang siap menerkam.
-
Weibo Gaming (China): Setelah melihat rekan senegara mereka (TT) lolos mudah lewat The Gauntlet, Weibo Gaming dipastikan akan bermain dengan agresi tinggi. Gaya main tim PEL (Peace Elite League) yang terkenal dengan gunpower jarak dekat akan menjadi ujian berat bagi tim-tim yang suka bermain pasif.
-
Team Falcons (Eropa/Mongolia): Dengan sejarah panjang pemain-pemain eks-Stalwart atau roster Mongolia yang kuat, Falcons adalah kandidat kuat penghuni Top 3. Rotasi mereka yang rapi dan kemampuan team fight 4v4 yang solid membuat mereka sangat sulit disingkirkan dari zona.
-
Vampire Esports (Thailand): Tuan rumah yang terluka. Setelah gagal mengamankan tiket via The Gauntlet, VPE akan bermain di depan pendukungnya sendiri di Imperial World Samrong. Dukungan tuan rumah bisa menjadi pedang bermata dua; bisa memberikan motivasi ekstra, atau justru menambah tekanan mental.
Teknis dan Meta: Rondo Masih Menjadi Misteri
Salah satu hal menarik dari PMGC 2025 adalah masuknya map Rondo ke dalam rotasi kompetitif global secara penuh. Sepanjang The Gauntlet kemarin, terlihat banyak tim masih meraba-raba strategi terbaik di map luas ini.
Rondo menawarkan medan yang bervariasi dengan banyak open field yang memaksa penggunaan smoke lebih masif, serta fitur-fitur unik seperti destructible terrain yang mulai dimanfaatkan oleh tim-tim cerdas. Tim yang paling cepat beradaptasi dengan ritme Rondo di Group Stage ini kemungkinan besar akan memiliki keunggulan poin yang signifikan dibandingkan mereka yang hanya mengandalkan hafalan di Erangel dan Miramar.
Kesimpulan: Jalan Terjal Menuju Siam Paragon
PMGC 2025 telah membuktikan diri sebagai turnamen paling dinamis tahun ini. Format “The Gauntlet” sukses menyaring yang terbaik dari yang terbaik lebih awal, meninggalkan Group Stage sebagai medan pertempuran bagi mereka yang memiliki mental baja untuk bangkit.
Bagi Alter Ego Ares dan tim-tim lainnya, hari ini bukan sekadar hari pertama pertandingan. Ini adalah awal dari satu minggu penentuan nasib. Apakah mereka akan menyusul R8 dan D’Xavier ke panggung megah Siam Paragon pada 12 Desember nanti? Atau apakah mimpi mereka akan terkubur di Samut Prakan?
Saksikan siaran langsung PMGC 2025 Group Stage mulai pukul 17:00 WIB hari ini di kanal resmi YouTube dan TikTok PUBG Mobile Esports. Dukung terus perwakilan Indonesia! #PMGC2025 #IndoPride
Statistik Singkat PMGC 2025 (Hingga 28 Nov):
-
Total Tim: 48 (Awal), 41 Tersisa.
-
Sudah Lolos Grand Finals (Via Gauntlet): R8 Esports, ThunderTalk, Alpha7, Kara Esports, MadBulls, ULF Esports, D’Xavier.
-
Lokasi Group Stage: Imperial World Samrong, Thailand.
-
Jadwal Group Stage: 28 Nov – 4 Des 2025.
-
Grand Finals: 12 – 14 Des 2025 (Siam Paragon).
