SEOUL – Kabar mengejutkan mengguncang kancah kompetitif Valorant Pasifik di penghujung tahun 2025. Riot Games, selaku pengembang dan penyelenggara liga global Valorant Champions Tour (VCT), secara resmi menjatuhkan hukuman berat kepada salah satu pemain veteran yang cukup disegani, Seungmin “Ban” Oh.

Pada pengumuman resmi yang dirilis Kamis (18/12/2025), Riot menyatakan bahwa Ban terbukti melanggar Kode Etik Global Esports (Global Code of Conduct) terkait integritas kompetitif. Mantan punggawa T1, Talon Esports, dan Global Esports ini dijatuhi hukuman larangan bertanding selama 12 bulan (satu tahun) dari seluruh kompetisi resmi yang disanksi oleh Riot Games. Keputusan ini efektif berlaku segera, menutup peluang Ban untuk berlaga di musim VCT 2026 mendatang.
Skorsing ini menjadi tamparan keras bagi ekosistem esports Asia, mengingat Ban bukanlah nama baru. Ia adalah figur senior yang telah melalang buana dari sirkuit Amerika Utara hingga menjadi pilar di tim-tim besar Pasifik. Kasus ini membuka kembali diskusi hangat mengenai batas tipis antara “niat jahat” dan “kelalaian” dalam aturan match-fixing (pengaturan skor).
Kronologi Kasus: Bayang-Bayang di Laga Global Esports vs Team Secret
Akar permasalahan dari skorsing ini bermula dari sebuah pertandingan di VCT Pacific Stage 2 yang berlangsung pada 19 Juli 2025. Saat itu, Ban masih berseragam tim asal India, Global Esports (GE), dalam laga melawan tim kuat asal Filipina, Team Secret.
Meskipun pertandingan tersebut berjalan terlihat normal secara kasat mata, di balik layar ternyata terjadi komunikasi yang melanggar aturan. Investigasi Riot Games mengungkapkan bahwa Ban telah terlibat dalam percakapan dengan pihak ketiga yang menawarkan skema manipulasi pertandingan (match-fixing) dengan iming-iming imbalan finansial.
Investigasi resmi dimulai pada 27 Agustus 2025, lebih dari sebulan setelah pertandingan usai. Pemicunya adalah munculnya serangkaian tangkapan layar (screenshots) yang beredar di forum daring, memperlihatkan percakapan mencurigakan yang diduga melibatkan pemain profesional VCT Pasifik. Menanggapi isu liar ini, Riot Games tidak tinggal diam dan menggandeng firma integritas data olahraga terkemuka, Sportradar, untuk melakukan audit forensik dan investigasi menyeluruh.
Detail Pelanggaran: “Hanya Mendengarkan” Adalah Kejahatan
Poin paling krusial—dan mungkin paling kontroversial bagi sebagian penggemar—dalam kasus ini adalah fakta bahwa Riot Games tidak menemukan bukti Ban melakukan match-fixing secara nyata di dalam game.

Berdasarkan analisis performa, data in-game, dan statistik pertandingan GE vs Team Secret, Ban bermain dengan wajar. Tidak ada indikasi ia sengaja bermain buruk (throwing) atau melakukan tindakan sabotase untuk mempengaruhi hasil akhir. Ban sendiri dalam pembelaannya bersikeras bahwa ia tidak pernah berniat menerima tawaran tersebut apalagi melaksanakannya.
Namun, palu Riot Games tetap diketuk berdasarkan Pasal 4.14 (Match-Fixing or Manipulation) dan Pasal 5.9 (Intent) dari Kode Etik Global.
Dalam aturan ketat Riot, tindakan “terlibat dalam percakapan” (engaging) dan “meladeni tawaran” (entertaining proposals) sudah dikategorikan sebagai pelanggaran berat. Ban terbukti tidak langsung menolak tawaran tersebut, tidak memblokir kontak pelaku, dan yang paling fatal: tidak segera melaporkan kejadian tersebut kepada ofisial liga atau manajemen tim saat itu terjadi.
Riot menegaskan bahwa integritas kompetisi dinilai ternoda begitu seorang pemain mulai mendiskusikan “angka” atau syarat finansial dengan pengatur skor, terlepas dari apakah manipulasi itu akhirnya dieksekusi atau tidak. Sikap Ban yang membiarkan pintu negosiasi terbuka—meski ia mengklaim hanya basa-basi atau penasaran—dianggap sebagai perilaku yang tidak dapat ditoleransi dalam olahraga profesional.
Proses Investigasi dan Faktor Peringan
Proses penyelidikan memakan waktu hampir empat bulan, dari Agustus hingga Desember 2025. Dalam periode tersebut, tim investigasi mengumpulkan bukti dokumen dan melakukan serangkaian wawancara saksi.
Nasib Ban mungkin bisa jauh lebih buruk—seperti larangan seumur hidup (lifetime ban)—jika bukan karena satu faktor peringan: Pengakuan Sukarela (Self-Reporting).
Meskipun terlambat, Ban akhirnya mengakui perbuatannya dan melaporkan insiden tersebut kepada manajemen timnya, yang kemudian diteruskan kepada Riot. Sayangnya, laporan ini baru dilakukan Ban setelah investigasi resmi dimulai dan rumor sudah beredar luas. Riot mencatat hal ini sebagai faktor yang meringankan hukuman, namun tidak cukup untuk menghapus dosa kelalaiannya dalam melapor di awal kejadian.
“Pemain memiliki kewajiban untuk segera menolak dan melaporkan segala bentuk pendekatan yang berkaitan dengan manipulasi pertandingan. Kegagalan untuk melakukan hal tersebut, apalagi sampai mendiskusikan syarat-syaratnya, adalah pelanggaran fundamental,” tulis Riot dalam rilis resminya.
Dampak Karir: Akhir Perjalanan Sang Nomad?
Bagi Seungmin “Ban” Oh, hukuman 12 bulan ini bisa menjadi lonceng kematian bagi karir profesionalnya. Lahir pada Januari 2000, Ban saat ini berusia 25 tahun—usia yang sudah dianggap “senior” dalam dunia esports yang didominasi remaja belasan tahun.
Ban dikenal sebagai pemain nomad yang memiliki perjalanan karir unik. Ia memulai debutnya di sirkuit Amerika Utara (NA) bersama tim seperti Luminosity Gaming dan Knights, sebelum akhirnya “pulang kampung” ke Korea Selatan untuk bergabung dengan raksasa T1 pada 2022.
Karirnya di Pasifik cukup berwarna. Bersama T1, ia sempat merasakan panggung internasional di VCT Masters Tokyo dan Valorant Champions 2023. Setelah itu, ia pindah ke tim Thailand, Talon Esports, sebelum akhirnya berlabuh di Global Esports pada pertengahan 2025.
Absen selama satu tahun penuh di usia 25-26 tahun akan membuat Ban kehilangan momentum kompetitif yang sangat besar. Meta permainan Valorant berubah dengan sangat cepat; agen baru, peta baru, dan mekanik baru terus bermunculan. Mengejar ketertinggalan setelah vakum setahun, ditambah dengan stigma “pemain bermasalah”, akan membuat tim-tim besar berpikir dua kali untuk merekrutnya kembali di musim 2027.
Selain larangan bertanding, Riot juga mewajibkan Ban untuk menyelesaikan program pelatihan integritas dan etika profesional sebelum diizinkan mendaftar kembali sebagai pemain pro di masa depan.
Reaksi Global Esports dan Komunitas
Global Esports, tim terakhir yang dibela Ban saat insiden terjadi, segera mengeluarkan pernyataan sikap tak lama setelah putusan Riot keluar. Mereka menegaskan bahwa kontrak Ban sebenarnya telah berakhir pada November 2025, namun mereka tetap kooperatif selama proses investigasi.
“Kami tidak mentolerir segala bentuk tindakan yang mencederai sportivitas. Integritas adalah harga mati bagi organisasi kami,” bunyi pernyataan singkat dari manajemen GE. Langkah ini seolah menjadi “cuci tangan” yang wajar dilakukan organisasi untuk melindungi merek mereka dari citra buruk skandal match-fixing.
Di sisi lain, komunitas Valorant di platform seperti Reddit dan VLR.gg memberikan reaksi beragam. Sebagian besar mendukung langkah tegas Riot sebagai upaya “bersih-bersih” ekosistem. Kasus match-fixing adalah kanker dalam esports yang pernah menghancurkan skena StarCraft di Korea dan CS:GO di Amerika Utara (skandal iBUYPOWER).
Namun, ada juga segelintir penggemar yang merasa hukuman 12 bulan terlalu keras mengingat Ban tidak benar-benar melakukan throw. “Dia bodoh karena meladeni chat itu, tapi dia tidak menjual pertandingan. Satu tahun adalah waktu yang sangat lama untuk sebuah ‘niat’ yang tidak terlaksana,” tulis salah satu pengguna di forum VLR.gg.
Kesimpulan: Pesan Tegas untuk Generasi Selanjutnya
Hukuman terhadap Seungmin “Ban” Oh bukan sekadar sanksi untuk satu individu, melainkan sebuah pesan peringatan (deterrent) bagi seluruh atlet esports profesional. Riot Games ingin menegaskan standar bahwa dalam olahraga profesional, menjaga jarak dari pelaku kriminal sama pentingnya dengan performa di atas panggung.
Pelajaran mahal ini harus dibayar dengan satu tahun karir Ban yang hilang. Bagi para pemain muda yang sedang merintis karir, kasus ini menjadi pengingat: jika ada seseorang yang menawarkan uang untuk kekalahanmu di DM (Direct Message), hanya ada satu respon yang benar—Tolak, Blokir, dan Laporkan Detik Itu Juga.
Mulai hari ini, nama Ban akan masuk dalam daftar hitam sementara, menjadi penonton di pinggir lapangan saat rekan-rekan dan rivalnya bertarung memperebutkan kejayaan di musim VCT 2026. Apakah ia akan kembali bangkit atau menghilang selamanya dari radar kompetitif? Hanya waktu yang bisa menjawab.
