BANGKOK – Perjuangan heroik ditunjukkan oleh Tim Nasional (Timnas) Esports Indonesia di ajang SEA Games ke-33 yang berlangsung di Thailand. Di tengah gemuruh pendukung tuan rumah yang memadati Sala Phra Kieo, Chulalongkorn University, Bangkok, Skuad Garuda nomor Free Fire berhasil menorehkan prestasi membanggakan dengan membawa pulang dua medali sekaligus: Perak dan Perunggu.
Meski medali emas harus jatuh ke tangan tim tuan rumah yang tampil sangat dominan, keberhasilan Indonesia menempatkan dua wakilnya di podium pada Kamis, 18 Desember 2025, menjadi bukti konsistensi dan mentalitas baja para atlet esports Tanah Air di kancah Asia Tenggara.

Drama di Sala Phra Kieo: Dominasi Tuan Rumah dan Perlawanan Sengit Garuda
Babak Grand Final cabang olahraga esports nomor Free Fire di SEA Games 2025 menyajikan pertarungan intensitas tinggi yang melibatkan 12 tim terbaik dari seluruh kawasan Asia Tenggara. Indonesia menurunkan dua tim terbaiknya, yakni Indonesia 1 (INA 1) dan Indonesia 2 (INA 2), yang masing-masing membawa misi untuk mengulang kejayaan emas.
Sejak ronde pertama dimulai, atmosfer kompetisi terasa sangat berat bagi tim tamu. Tuan rumah Thailand, yang diwakili oleh tim Thailand 1 (THA 1) dan Thailand 2 (THA 2), tampil sangat agresif di hadapan publiknya sendiri.
Pada klasemen akhir, Thailand 1 sukses mengunci medali emas dengan total perolehan poin yang fantastis, yakni 127 poin. Mereka tampil nyaris tanpa celah, mendominasi penguasaan zona dan rotasi peta. Namun, sorotan utama justru tertuju pada perebutan posisi kedua dan ketiga yang sangat ketat antara Indonesia, Vietnam, dan Malaysia.
Tim Indonesia 2, yang sebelumnya tidak terlalu diunggulkan dibanding saudaranya INA 1 saat fase Point Rush, justru meledak di hari penentuan. Mengandalkan gaya permainan agresif tanpa kompromi, INA 2 berhasil mengumpulkan total 115 poin untuk mengamankan medali Perak. Poin vital mereka didapatkan dari akumulasi elimination points yang sangat tinggi, yakni 77 kills, sebuah angka yang menunjukkan betapa mematikannya daya tempur mereka meski gagal meraih Booyah di hari final.
Sementara itu, Tim Indonesia 1 harus puas dengan medali Perunggu setelah mengumpulkan total 98 poin (47 elimination points). Meskipun sempat memimpin di fase awal berkat bekal poin dari Point Rush, INA 1 kesulitan mempertahankan momentum di ronde-ronde akhir yang krusial akibat tekanan masif dari tim Vietnam dan Malaysia yang terus menempel ketat.
Jalannya Pertandingan: Konsistensi Tanpa Booyah
Salah satu fakta paling menarik dari keberhasilan Indonesia meraih Perak dan Perunggu kali ini adalah anomali statistik di hari final: Kedua tim Indonesia meraih medali tanpa mendapatkan satu pun Booyah di 6 ronde terakhir Grand Final.
Ini adalah bukti kecerdasan strategi placement dan survival yang diterapkan oleh pelatih. Di saat tim-tim lain berjudi dengan risiko tinggi untuk mengejar Booyah, anak-anak asuh Richard Permana memilih bermain disiplin, mengamankan poin kill demi poin, dan bertahan hingga lingkaran akhir zona.
Berikut adalah distribusi Booyah pada hari Grand Final yang didominasi oleh rival:
-
Thailand 2 (Map Bermuda)
-
Thailand 1 (Map Purgatory)
-
Thailand 1 (Map Solara)
-
Vietnam 1 (Map Nexterra)
-
Thailand 1 (Map Alpine)
-
Malaysia 1 (Map Kalahari)
Dominasi Thailand 1 dengan tiga kali Booyah (hattrick) di map Purgatory, Solara, dan Alpine memang sulit dibendung. Namun, kemampuan INA 2 untuk terus masuk di jajaran “Top 4” di setiap ronde menjadi kunci sukses mereka menyalip poin tim-tim yang mungkin mendapat satu kali Booyah tapi “too soon” (gugur awal) di ronde lainnya.
Komposisi Roster: Paduan Bintang RRQ Kazu, Dewa United, dan ONIC
Kesuksesan ini tidak lepas dari racikan roster (susunan pemain) yang menggabungkan talenta-talenta terbaik dari liga profesional Indonesia.
Tim Indonesia 1 (Peraih Perunggu) didominasi oleh kerangka tim RRQ Kazu ditambah amunisi dari Dewa United Apollo. Skuad ini berisi:
-
Wira Gunawan
-
Aby Siliwangi Jaya Kusuma (Abay)
-
Abdullah Kamal Hasibuan (Maal)
-
M. Haidir Ali (Dutzz)
-
Muhammad Fikry Haikal (Ikal/18Deer)
Mereka adalah tim yang memiliki chemistry sangat kuat karena sudah lama bermain bersama. Di fase Point Rush sehari sebelumnya, INA 1 sebenarnya tampil trengginas dengan meraih dua kali Booyah dan duduk di peringkat kedua klasemen sementara. Sayangnya, “kutukan” hari final membuat mereka sedikit kehilangan sentuhan magis di momen krusial.
Tim Indonesia 2 (Peraih Perak), yang menjadi kejutan manis, diisi oleh kombinasi pemain berbakat yang mayoritas memiliki jam terbang tinggi, termasuk pilar dari tim ONIC. Skuad ini terdiri dari:
-
Adrian
-
Adam Ramdani
-
Kahfi Alfathan
-
Rafli Aidil Fitrah
-
Muh Raehan
Ketenangan Adrian dan kawan-kawan dalam mengambil keputusan di situasi chaos menjadi pembeda. Saat tim lain panik digempur zona dan lawan, INA 2 justru panen kill. Angka 77 eliminasi adalah bukti bahwa daya ledak aim (bidikan) mereka berada di level dunia.

Strategi dan Tantangan Teknis: Analisis “Mata Elang” Richard Permana
Di balik layar, peran tim pelatih yang dipimpin oleh Kepala Pelatih Timnas Esports Indonesia, Richard Permana, sangat krusial. Dalam wawancaranya pasca-laga, Richard mengungkapkan bahwa persiapan tim tidak hanya soal latihan menembak, tetapi juga “perang data”.
“Kami melakukan analisis replay sampai ke akar-akarnya. Tim pelatih memetakan drop zone (titik pendaratan) lawan di setiap map untuk menghindari tabrakan awal yang merugikan,” ujar Richard. Strategi ini terbukti ampuh; kedua tim Indonesia jarang sekali mengalami early fight yang tidak perlu, sehingga mereka bisa masuk ke fase mid-game dengan persenjataan lengkap.
Namun, perjuangan di Bangkok bukan tanpa kendala. Richard membeberkan bahwa para atlet harus beradaptasi dengan tantangan teknis yang cukup mengganggu, mulai dari bug dalam permainan, gangguan audio pada earphone panggung, hingga suhu ruangan (AC) di venue yang sangat dingin dan mempengaruhi kecepatan tangan pemain.
“Anak-anak menunjukkan mentalitas luar biasa. Meski ada kendala teknis dan tekanan suporter tuan rumah yang berisik, mereka tetap fokus pada layar,” tambahnya.
Pelatih Tim INA 1, Adi Gustiawan, juga menambahkan rasa syukurnya. “Alhamdulillah, meski belum emas, perak dan perunggu ini kami dedikasikan untuk seluruh masyarakat Indonesia yang setia mendukung via live streaming.”
Peta Kekuatan Esports Asia Tenggara: Indonesia Masih Disegani
Hasil di nomor Free Fire ini melengkapi total perolehan medali Timnas Esports Indonesia di SEA Games 2025 menjadi 1 Perak dan 4 Perunggu. Cabang lain seperti Mobile Legends: Bang Bang (Putra & Putri) serta FC Online sebelumnya juga telah menyumbangkan medali perunggu.
Meskipun secara umum Indonesia gagal mempertahankan gelar Juara Umum cabor Esports yang diraih pada SEA Games Kamboja 2023, raihan di nomor Free Fire ini menyelamatkan wajah kontingen merah putih. Ini menegaskan bahwa di genre Battle Royale, Indonesia masih menjadi salah satu raksasa yang paling ditakuti, bersaing ketat dengan Thailand yang memang dikenal sebagai “kiblat” Free Fire dunia.
Thailand boleh saja berpesta dengan Emas di kandang sendiri, namun fakta bahwa dua tim Indonesia bisa mengapit mereka di podium adalah sinyal bahaya. Gap kualitas antara kedua negara semakin tipis. Jika Thailand mengandalkan penguasaan mikro yang sempurna, Indonesia menjawabnya dengan makro strategi dan agresivitas tim.
Prestasi yang Layak Diapresiasi
Membawa pulang dua medali dari satu nomor pertandingan bukanlah hal yang mudah, apalagi di ajang sekelas SEA Games di mana tekanan mental jauh lebih besar daripada turnamen liga biasa. Perak yang diraih Tim Indonesia 2 dan Perunggu oleh Tim Indonesia 1 di SEA Games 2025 Thailand adalah buah dari regenerasi atlet yang berjalan baik.
Nama-nama baru bermunculan dan langsung nyetel dengan para veteran. Ini menjadi modal berharga bagi PB ESI (Pengurus Besar Esports Indonesia) untuk menatap ajang internasional berikutnya, seperti Esports World Cup atau kejuaraan dunia FFWS mendatang.
Terima kasih, Pahlawan Esports Indonesia! Kibaran Merah Putih di Bangkok membuktikan bahwa Garuda tidak pernah berhenti bertarung hingga zona terakhir menutup.
