Jakarta, ID – Jagat esports Mobile Legends: Bang Bang (MLBB) Indonesia kembali diguncang drama panas di penghujung tahun ini. Belum kering ingatan kita tentang berbagai transfer pemain yang mengejutkan, kini komunitas dibuat heboh dengan perseteruan tak terduga antara seorang Youtuber bernama Adel dengan ikon legendaris Scene MLBB Indonesia, Muhammad “Lemon” Ikhsan, atau yang lebih dikenal sebagai RRQ Lemon.

Ketegangan yang bermula dari potongan klip video “senggolan” ini membesar dengan cepat bak bola salju, memancing amarah jutaan penggemar RRQ (Kingdom), menyeret nama analis kondang, hingga memaksa CEO Team RRQ, Andrian Pauline (Pak AP), untuk turun gunung membereskan kekacauan.
Lantas, bagaimana sebenarnya kronologi lengkap drama “David vs Goliath” versi komunitas MLBB ini? Apa yang sebenarnya dikatakan Adel hingga membuat “Sang Raja” dan pasukannya meradang? Berikut ulasan lengkap dan faktualnya.
Awal Mula Petaka: “Senggolan” Soal Gelar GOAT
Kejadian bermula dari sebuah konten video yang diunggah di kanal Youtube milik Adel. Dalam video yang awalnya bertujuan membahas skena esports secara umum tersebut, narasi tiba-tiba berbelok ke arah yang sensitif: perbandingan kasta antara Pro Player PC dan Mobile.
Adel, dalam argumennya yang kini viral di TikTok dan Instagram, mengeluarkan pernyataan kontroversial terkait gelar GOAT (Greatest of All Time). Ia menyiratkan keraguannya terhadap kelayakan pemain mobile (khususnya Lemon) menyandang gelar GOAT jika disandingkan dengan legenda esports PC.
“Ya kalau ngomongin GOAT esports, masa ukurannya cuma mobile? Lemon jago, oke, tapi kalau dibandingin sama legend di PC, beda kelas lah…” — (Paraphrase dari inti pernyataan viral Adel).
Pernyataan ini mungkin terdengar sebagai opini pribadi yang sah-sah saja di telinga orang awam. Namun, di telinga komunitas MLBB Indonesia yang sangat militan—terutama Kingdom—kalimat ini terdengar sebagai pendeskreditan terhadap dedikasi Lemon yang telah berkarir sejak MPL Season 1.
Masalah kian runyam ketika klip tersebut dipotong (clip) oleh akun-akun gosip esports dan disebarkan dengan caption provokatif: “Adel Remehkan Lemon, Sebut Gak Pantas Jadi GOAT!”.
Eskalasi Masalah: Blunder “Mencari Pembenaran” ke Mas Ade
Alih-alih meredakan situasi atau meminta maaf karena pemilihan kata yang kurang tepat, Adel justru melakukan langkah yang oleh netizen dianggap sebagai “Blunder Fatal”.
Merasa diserang oleh netizen di kolom komentar, Adel mencoba mencari validasi atau pembenaran atas argumennya. Dalam sebuah sesi live streaming lanjutan, Adel memutuskan untuk menelpon Ade Setiawan (Mas Ade), mantan analis EVOS yang kini menjadi caster dan streamer ternama.
Tujuannya jelas: Adel berharap Mas Ade—yang dikenal kritis dan objektif—akan setuju dengan pandangannya bahwa “Esports PC > Mobile” dalam konteks gelar GOAT.
Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Percakapan telepon tersebut menjadi bumerang. Alih-alih membela, respon dari sisi Mas Ade justru terdengar netral dan cenderung menyudutkan logika Adel yang dianggap mencampuradukkan genre. Komunitas menilai tindakan Adel menelpon Mas Ade ini sebagai upaya putus asa untuk mencari “bekingan” opini, yang justru membuatnya terlihat semakin tidak paham sejarah scene MLBB di Indonesia.
Potongan klip telepon ini menjadi bahan bakar baru. Narasi yang berkembang di publik bukan lagi soal “Opini Adel”, melainkan “Adel yang keras kepala dan tidak menghargai legenda”.
Reaksi Kingdom: Tsunami Hujatan
Tidak butuh waktu lama, akun media sosial Adel (Instagram dan Youtube) dibanjiri oleh “silaturahmi” dari RRQ Kingdom. Komentar-komentar pedas memenuhi setiap unggahan.
Bagi fans RRQ, Lemon bukan sekadar pemain. Ia adalah simbol loyalitas dan konsistensi. Menyenggol Lemon sama dengan menyenggol marwah tim “Raja dari Segala Raja”. Fans merasa argumen Adel tidak relevan karena setiap game memiliki ekosistem dan kesulitannya masing-masing. Membandingkan mekanik PC dan Mobile secara apple-to-apple dianggap sebagai argumen usang yang tidak valid.
Lemon sendiri, seperti biasanya, memilih diam. Sang Alien dikenal tidak terlalu peduli dengan drama media sosial. Namun, diamnya Lemon justru membuat fans semakin protektif dan ganas menyerang pihak yang mengusiknya.
Klimaks: Pak AP Turun Tangan
Melihat situasi yang semakin tidak kondusif dan potensi kerusakan image terhadap ekosistem esports yang mulai dipenuhi hate speech berlebihan, Pak AP (CEO RRQ) akhirnya mengambil sikap.
Melalui video stream di kanal Youtube Dean KT, Pak AP memberikan respons yang tegas namun elegan. Ia tidak menyerang balik Adel secara personal, namun memberikan edukasi menohok mengenai respect.
Poin-poin penting dari klarifikasi Pak AP antara lain:
-
Definisi Esports yang Luas: Pak AP menekankan bahwa esports tidak lagi dikotak-kotakkan secara kaku antara PC dan Mobile. Keduanya memiliki pasar, kesulitan, dan legacy-nya sendiri.
-
Respect to Legends: Ia mengingatkan bahwa Lemon telah mendedikasikan masa mudanya untuk membesarkan skena ini. Mengerdilkan pencapaian seseorang hanya demi konten adalah tindakan yang tidak bijak.
-
Himbauan untuk Kingdom: Pak AP juga meminta Kingdom untuk berhenti melakukan serangan brutal (witch hunt) yang berlebihan, namun tetap tegas bahwa RRQ akan selalu membela pemainnya jika direndahkan.
“Kita boleh punya opini, tapi harus didasari data dan rasa hormat. Lemon sudah berjuang dari jaman esports belum ada apa-apanya di sini. Jangan karena mau viral, kita lupakan sejarah,” tegas Pak AP dalam salah satu pernyataannya.
Intervensi Pak AP ini menjadi titik balik. “Titah sang Raja” berhasil meredam emosi massa. Fokus publik beralih dari menyerang Adel menjadi mendiskusikan kembali arti “menghargai” dalam kompetisi.
Resolusi dan Pelajaran Berharga
Pasca intervensi Pak AP, drama ini perlahan mereda. Adel, yang mungkin menyadari bahwa ia telah “membangunkan singa tidur”, akhirnya merilis video klarifikasi dan permintaan maaf. Ia mengakui bahwa ada kesalahan penyampaian (miss-komunikasi) dan tidak bermaksud merendahkan karir Lemon.
Meskipun permintaan maaf telah terucap, jejak digital tetap tertinggal. Kejadian ini memberikan beberapa pelajaran penting bagi para konten kreator dan influencer baru di dunia esports:
-
Hati-hati dengan “Senggol Bacok”: Strategi menaikan engagement dengan menyenggol nama besar (terutama yang memiliki basis masa fanatik seperti RRQ) adalah pedang bermata dua. Bisa viral instan, tapi bisa juga menghancurkan reputasi dalam semalam.
-
Riset Sebelum Beropini: Membandingkan scene PC dan Mobile memerlukan wawasan mendalam, bukan sekadar opini permukaan. Komunitas esports saat ini sudah cerdas dan kritis.
-
Peran CEO sebagai Pengayom: Tindakan Pak AP membuktikan mengapa ia menjadi salah satu CEO paling dihormati. Ia hadir bukan untuk memperkeruh suasana, tapi untuk menjadi penengah yang melindungi pemainnya sekaligus mengedukasi publik.
Jadilah Pembuat Konten Yang Bijak!
Drama “Adel vs Lemon RRQ” ini hanyalah satu dari sekian banyak dinamika di dunia esports Indonesia. Namun, ia menjadi pengingat keras bahwa di balik layar kaca dan avatar game, ada manusia yang mendedikasikan hidupnya untuk prestasi.
Lemon tetaplah Lemon, sang legenda yang tak perlu validasi dari siapa pun untuk membuktikan kehebatannya. Dan bagi Adel, serta kreator lainnya, ini adalah pelajaran mahal bahwa respect adalah mata uang paling berharga di komunitas ini.
Semoga ke depannya, viralitas di dunia esports Indonesia lahir dari prestasi dan momen epik di Land of Dawn, bukan dari drama “senggol-senggolan” yang tidak produktif.
