JAKARTA, 9 Desember 2025 – Kabar gembira sekaligus melegakan akhirnya datang dari kancah PUBG Mobile dunia. Satu-satunya harapan Indonesia, Alter Ego Ares, resmi memastikan diri melaju ke babak puncak PUBG Mobile Global Championship (PMGC) 2025 Grand Finals.
Kepastian ini didapatkan setelah perjuangan “berdarah-darah” di babak Last Chance yang berakhir pada Minggu malam (7/12/2025). Dalam skenario yang bisa dibilang sebagai salah satu comeback paling mendebarkan dalam sejarah partisipasi tim Indonesia di PMGC, Alter Ego Ares sukses mengamankan posisi kedua di klasemen akhir Last Chance, menemani Team Flash dari Vietnam yang keluar sebagai pemuncak klasemen.

Lolosnya Rosemary dan kawan-kawan bukan sekadar kemenangan tim, melainkan penyelamatan wajah esports Indonesia di mata dunia, mengingat mereka adalah satu-satunya wakil Merah Putih yang tersisa.
Drama “Last Chance”: Lolos dari Lubang Jarum
Babak Last Chance PMGC 2025 yang digelar pada 6-7 Desember kemarin benar-benar menjadi ujian mental sesungguhnya bagi God of War. Format babak ini sangat kejam: dari 16 tim yang bertanding (termasuk tim-tim kuat yang gagal di Group Stage), hanya dua tim teratas yang berhak mendapatkan tiket ke Grand Final. Posisi ketiga dan seterusnya harus angkat koper. Tidak ada ruang untuk kesalahan.

Pada hari pertama Last Chance, Alter Ego Ares tampil trengginas. Seolah ingin membayar tuntas kegagalan mereka di fase grup, skuad asuhan pelatih ini langsung tancap gas. Mereka berhasil mengamankan dua kali Winner Winner Chicken Dinner (WWCD) di gim pertama dan ketiga. Permainan agresif namun terukur yang menjadi ciri khas Ares kembali terlihat. Rotasi mereka rapi, dan firepower dari Rosemary—yang kerap dijuluki “The Carry”—sangat mematikan. Hari pertama ditutup dengan Alter Ego Ares memuncaki klasemen sementara dengan 58 poin, memberikan secercah harapan besar bagi publik Tanah Air.
Namun, hari kedua (7/12) berubah menjadi neraka kompetisi. Tim-tim lain seperti Weibo Gaming (China) dan INFLUENCE RAGE (Brasil) mulai panas dan mengejar ketertinggalan. Tekanan semakin tinggi ketika perolehan poin menjadi sangat ketat menuju pertandingan-pertandingan terakhir.
Momen paling krusial terjadi di penghujung klasemen akhir. Team Flash (Vietnam) tampil konsisten dan mengunci posisi pertama dengan total 99 poin. Perebutan satu tiket tersisa menjadi pertarungan hidup mati antara Alter Ego Ares dan raksasa China, Weibo Gaming.
Ketika debu pertempuran mereda setelah 12 match, papan skor menunjukkan angka yang membuat jantung berdegup kencang: Alter Ego Ares dan Weibo Gaming sama-sama mengoleksi 93 poin!
Namun, dewi fortuna berpihak pada Indonesia. Berdasarkan aturan tie-breaker turnamen, jika poin total sama, penentuan peringkat dilihat dari jumlah WWCD. Di sinilah agresivitas Ares di hari pertama menjadi penyelamat. Alter Ego Ares mengantongi 2 WWCD, sementara Weibo Gaming, meskipun bermain konsisten mengumpulkan poin placement, gagal meraih satu pun WWCD (0 WWCD).
Fakta ini membuat Alter Ego Ares berhak duduk di peringkat ke-2 dan merebut tiket terakhir ke Grand Final, memupuskan harapan Weibo Gaming yang harus pulang dengan rasa sakit yang luar biasa. Itu adalah momen dramatis yang menegaskan bahwa di level dunia, setiap kill dan setiap Chicken Dinner sangatlah berharga.
Kilas Balik: Rollercoaster di Group Stage (Green)
Keberhasilan di babak Last Chance ini terasa semakin manis jika mengingat “mimpi buruk” yang dialami Alter Ego Ares seminggu sebelumnya di babak Group Stage (Group Green).
Kala itu, Alter Ego Ares sejatinya memulai turnamen dengan sangat baik. Selama dua hari pertama Grup Green (28-29 November), mereka tampil dominan dan konsisten berada di jajaran Top 2. Mereka digadang-gadang akan lolos mulus via jalur undangan langsung (Top 3 Grup).
Namun, malapetaka terjadi di Hari Ketiga (30 November). Dalam enam ronde penentuan hari terakhir tersebut, performa Ares runtuh total. Entah karena tekanan mental atau strategi yang terbaca lawan, mereka tampil tumpul. Rotasi sering terpotong, kalah dalam duel aim, dan sering tereliminasi di posisi awal (too soon).
Bayangkan saja, dari enam match terakhir itu, mereka hanya mampu mengumpulkan total 5 poin. Sebuah anomali bagi tim sekelas Ares. Akibat performa jeblok di hari terakhir itu, posisi mereka di klasemen terjun bebas dari peringkat 2 menjadi peringkat 8. Mereka gagal mendapatkan slot langsung ke Grand Final—yang akhirnya diamankan oleh Alpha Gaming, Dplus, dan Team GOAT—dan terlempar ke babak Last Chance.
Banyak pengamat yang skeptis apakah Ares bisa bangkit mentalnya setelah “tersedak” begitu parah di hari terakhir grup. Namun, performa mereka di Last Chance kemarin membuktikan bahwa mental juara tim ini belum padam. Mereka berhasil mengubah kekecewaan menjadi bahan bakar untuk bangkit di saat yang paling menentukan.
Menatap Grand Final: Pertempuran di Bangkok
Kini, tiket sudah di tangan. Alter Ego Ares akan terbang ke Bangkok, Thailand, tempat diselenggarakannya PMGC 2025 Grand Finals. Babak puncak ini akan digelar secara offline di hadapan ribuan penonton di Siam Paragon pada 12 hingga 14 Desember 2025.
Tantangan di Grand Final akan jauh lebih berat. Alter Ego Ares akan berhadapan dengan 15 tim terbaik dunia lainnya. Daftar lawan mereka tidak main-main, meliputi:
-
Alpha Gaming (Juara Group Green)
-
Team Flash (Juara Last Chance)
-
Alpha7 Esports (Brasil – Tim yang selalu berbahaya)
-
ThunderTalk Gaming (China)
-
Regnum Carya
-
Dan tim-tim top tier lainnya yang lolos dari fase Gauntlet dan Group Stage.
Selain itu, tuan rumah Thailand juga akan memiliki perwakilan yang pastinya mendapatkan dukungan penuh dari suporter lokal, menambah tekanan atmosfer pertandingan.
Salah satu hal menarik yang patut dinantikan di Grand Final nanti adalah penerapan “Smash Rule” pada hari terakhir (jika format ini dikonfirmasi digunakan seperti rumor yang beredar). Format ini memungkinkan tim yang mencapai poin tertentu (match point) untuk langsung menjadi juara jika berhasil mendapatkan WWCD di match berikutnya, membuat setiap detik pertandingan di hari terakhir menjadi sangat tidak terprediksi.
Analisis: Apa Kunci Kemenangan Ares?
Untuk bisa bersaing di Grand Final dan membawa pulang piala PMGC ke Indonesia, Alter Ego Ares harus membenahi satu aspek krusial: Konsistensi.
Perjalanan mereka di PMGC 2025 ini menunjukkan pola “naik-turun” yang ekstrem. Mereka bisa tampil sebagai tim terbaik dunia di satu hari (seperti Day 1 Last Chance), namun bisa tiba-tiba kehilangan arah di hari berikutnya (seperti Day 3 Group Stage). Di Grand Final yang hanya berlangsung 3 hari (total 18 match), satu hari yang buruk sudah cukup untuk membuang peluang juara.
Peran Rosemary sebagai ujung tombak serangan akan kembali vital, namun dukungan dari Potato, Okta, dan Alva (atau line-up aktif yang diturunkan pelatih) dalam menjaga backline dan melakukan scouting akan menjadi penentu. Melawan tim-tim China dan Brasil yang memiliki aim super tajam, Ares tidak bisa hanya mengandalkan skill individu. Disiplin rotasi dan pengambilan keputusan late game yang tenang adalah kunci.
Satu Nyali, Indopride!
Lolosnya Alter Ego Ares adalah oase di tengah gurun prestasi tim Indonesia di PMGC tahun ini. Setelah tim-tim besar Indonesia lainnya berguguran di fase liga, beban harapan seluruh komunitas PUBG Mobile Tanah Air kini berada di pundak Ares.

Mereka telah membuktikan bahwa mereka memiliki mental baja dengan lolos dari lubang jarum Last Chance. Mereka telah mengalahkan Weibo Gaming dalam drama poin yang menegangkan. Kini, tinggal satu langkah lagi untuk mencetak sejarah.
Grand Final PMGC 2025 di Bangkok bukan hanya soal memenangkan hadiah miliaran rupiah, tapi soal pembuktian bahwa Indonesia masih menjadi salah satu kiblat kekuatan PUBG Mobile dunia.
Mari kita dukung perjuangan Alter Ego Ares. #IndoPride #AlterChamps!
