SEOUL – Dalam dunia esports, gelar Greatest of All Time (GOAT) sering kali menjadi perdebatan panas. Namun, di ranah League of Legends (LoL), perdebatan itu telah usai bertahun-tahun yang lalu. Satu nama berdiri tegak tanpa saingan: Lee “Faker” Sang-hyeok.

Di usia 29 tahun—usia yang dianggap “senja” bagi atlet esports—Faker tidak menunjukkan tanda-tanda melambat. Justru, ia baru saja mengukir sejarah yang mungkin tidak akan pernah terulang: membawa T1 meraih gelar juara dunia (Worlds) untuk keenam kalinya pada November 2025, sekaligus mencetak three-peat (tiga kali juara berturut-turut) pertama dalam sejarah kompetisi ini.
Artikel ini akan mengulas secara lengkap perjalanan karier Faker, dari seorang remaja pemalu yang bermain di warnet Seoul hingga menjadi ikon global yang wajahnya terpampang di Times Square dan menara-menara pencakar langit Korea Selatan.
2013: Lahirnya Sang Legenda
Kisah Faker dimulai pada tahun 2013. Saat itu, dunia LoL Korea Selatan sedang mencari bintang baru. SK Telecom T1 (sekarang T1) merekrut seorang pubstar (pemain jagoan di ranking publik) bernama “GoJeonPa” yang terkenal dengan mekanik permainannya yang tidak masuk akal. Pemuda itu adalah Lee Sang-hyeok, yang kemudian memilih nama panggung “Faker”.

Debut profesionalnya adalah salah satu momen paling ikonik dalam sejarah esports. Melawan mid laner terbaik Korea saat itu, Ambition, Faker yang menggunakan Nidalee melakukan solo kill (membunuh lawan sendirian) di bawah tower lawan pada level 6. Momen itu menjadi sinyal bagi seluruh dunia: raja baru telah tiba.
Di tahun debutnya, Faker langsung membawa SKT T1 memenangkan OGN Champions Summer 2013 (sekarang LCK) dengan permainan Zed-nya yang legendaris melawan Ryu—sebuah outplay yang hingga kini masih dianggap sebagai “mekanik terbaik sepanjang masa”. Ia menutup tahun rookie-nya dengan mengangkat Summoner’s Cup pertamanya di Los Angeles, menjadikan dirinya juara dunia di usia 17 tahun.
2015-2017: Era Dominasi dan Kekaisaran SKT
Setelah masa sulit di tahun 2014, Faker bangkit dengan kekuatan penuh di tahun 2015 dan 2016. Ini adalah era di mana julukan “Unkillable Demon King” (Raja Iblis yang Tak Bisa Dibunuh) lahir.
Bersama rekan setim legendarisnya seperti Bengi, Bang, dan Wolf, Faker menciptakan dinasti yang tak tertandingi. Mereka memenangkan Worlds 2015 dengan dominasi mutlak (hanya kalah satu game sepanjang turnamen) dan mempertahankan gelar tersebut di Worlds 2016 setelah pertarungan sengit melawan Samsung Galaxy.
Faker di era ini adalah definisi dari “sempurna”. Champion pool-nya sangat luas, dari assassin seperti LeBlanc dan Zed hingga mage kontrol seperti Ryze dan Orianna. Ia bukan hanya menang; ia menghancurkan mental lawan bahkan sebelum pertandingan dimulai.
Namun, air mata jatuh di tahun 2017. Di final Worlds yang digelar di “Sarang Burung” Beijing, SKT T1 kalah telak 0-3 dari Samsung Galaxy. Gambar Faker yang menangis di atas panggung menjadi viral, menunjukkan sisi manusiawi dari sang dewa. Momen itu menandai akhir dari sebuah era dominasi, namun sekaligus awal dari perjalanan kedewasaan seorang Lee Sang-hyeok.
2018-2022: Masa Transisi dan Kepemimpinan
Periode 2018 hingga 2021 sering disebut sebagai masa-masa “gelap” bagi penggemar T1. Tim mengalami perombakan besar-besaran, pelatih datang dan pergi, dan Faker sempat dicadangkan beberapa kali. Banyak analis mulai meragukan kemampuannya. “Apakah Faker sudah habis?” adalah pertanyaan yang sering muncul di forum-forum diskusi.
Namun, Faker membuktikan bahwa kelasnya permanen. Ia berevolusi. Jika dulu ia adalah carry utama yang harus membunuh semua musuh, ia perlahan berubah menjadi pemimpin strategis. Ia mulai membimbing talenta-talenta muda (Zeus, Oner, Gumayusi, Keria) yang kelak akan menjadi pilar kebangkitan T1.
Meskipun gagal meraih gelar internasional selama periode ini, Faker tetap konsisten membawa T1 ke papan atas LCK, memecahkan rekor demi rekor domestik, termasuk menjadi pemain pertama yang mencapai 2.500 kill di LCK.
2023-2025: Kebangkitan Kembali dan The Golden Road
Keraguan publik benar-benar sirna pada tahun 2023. Setelah tujuh tahun tanpa gelar internasional, Faker memimpin skuad mudanya, yang dijuluki “ZOFGK” (Zeus, Oner, Faker, Gumayusi, Keria), untuk memenangkan Worlds 2023 di kandang sendiri, Korea Selatan. Kemenangan ini sangat emosional karena Faker sempat mengalami cedera pergelangan tangan parah di pertengahan musim yang memaksanya istirahat, di mana T1 hancur lebur tanpa kehadirannya—bukti nyata betapa vitalnya peran sang kapten.

Tidak berhenti di situ, tahun 2024 menjadi saksi keabadiannya. Faker dinobatkan sebagai inductee pertama ke dalam Hall of Legends oleh Riot Games, sebuah penghargaan tertinggi bagi individu di ekosistem LoL. Di tahun yang sama, ia kembali memimpin T1 mempertahankan gelar juara dunia (Worlds 2024), meraih gelar kelimanya dan menyabet MVP Finals.
Puncak dari segalanya terjadi di tahun 2025. T1 mencetak sejarah dengan memenangkan Worlds 2025, melengkapi three-peat yang mustahil. Di final melawan rival abadi mereka, KT Rolster, Faker menunjukkan performa clutch di game kelima yang menentukan, membuktikan bahwa di momen paling kritis, ia tetaplah penentu kemenangan. Dengan 6 gelar juara dunia (2013, 2015, 2016, 2023, 2024, 2025), Faker kini memiliki lebih banyak trofi Worlds daripada organisasi mana pun di dunia.
Statistik dan Dampak di Luar Arena
Hingga Desember 2025, statistik Faker sangat mencengangkan:
-
6x Juara World Championship
-
2x Juara Mid-Season Invitational (MSI)
-
10x Juara LCK
-
Pemain pertama yang mencapai 1.000 games di LCK
-
Medali Emas Asian Games 2022
Namun, dampak Faker melampaui angka. Ia adalah ikon loyalitas di era modern di mana pemain sering berpindah tim demi uang. Ia telah menolak tawaran kontrak kosong (cek kosong) dari tim Tiongkok dan Amerika Utara demi tetap bersama T1 dan penggemar Korea.
Sikapnya yang rendah hati, disiplin, dan jauh dari skandal menjadikannya panutan (role model) sempurna. Ia dikenal hemat dan dermawan, sering menyumbangkan sebagian besar pendapatannya untuk amal. Di Korea Selatan, ia diperlakukan layaknya “harta nasional”, setara dengan bintang K-Pop BTS atau pesepakbola Son Heung-min.
Masa Depan: Kontrak hingga 2029
Banyak yang mengira setelah three-peat di 2025, Faker akan pensiun di puncak kejayaan. Namun, sang legenda berpikir lain. T1 telah mengumumkan perpanjangan kontrak Faker hingga tahun 2029. Ini berarti kita masih akan melihat aksi sang Raja Iblis setidaknya untuk empat tahun lagi.
Faker bukan lagi sekadar pemain; ia adalah brand, simbol, dan jiwa dari League of Legends itu sendiri. Selama Faker masih memegang mouse dan keyboard, setiap pertandingan adalah sejarah yang sedang ditulis.
Bagi dunia esports, Lee “Faker” Sang-hyeok bukan hanya pemain terbaik yang pernah ada. Ia adalah standar, batas langit, dan alasan mengapa jutaan orang mencintai permainan ini.
Long live the King.
