BANGKOK, 26 November 2025 – Lagu kebangsaan Indonesia Raya berkumandang paling lantang di Toyota Alive Space, Bangkok, malam ini. Dalam sebuah demonstrasi keterampilan mengemudi, strategi tim yang taktis, dan mentalitas baja, trio pembalap sim (sim racer) kebanggaan Indonesia—Andika “RamStig” Rama Maulana, Moreno Pratama, dan Farizi Pramaditya—sukses menyapu bersih gelar juara utama dalam ajang Toyota Gazoo Racing (TGR) Asia Esports GT Championship 2025.
Kemenangan ini bukan sekadar keberuntungan. Ini adalah sebuah statement keras bahwa Indonesia kini adalah kiblat sim racing di Asia. Dengan Andika Rama mengamankan gelar Juara Individu, Moreno Pratama sebagai Runner-Up, dan kontribusi krusial Farizi Pramaditya yang mengukuhkan Indonesia sebagai Juara Kategori Tim (Country Championship), delegasi Merah Putih pulang dengan tangan penuh, menyisihkan rival-rival berat dari Malaysia, Singapura, Thailand, dan Filipina.

Panggung Megah di Toyota Alive Space

TGR Asia Esports GT Championship tahun ini menghadirkan format yang jauh lebih menantang dibandingkan edisi-edisi sebelumnya. Menggunakan platform Gran Turismo 7, kompetisi ini dirancang untuk menguji tidak hanya kecepatan satu putaran (hotlap), tetapi juga konsistensi balapan (race craft), manajemen ban, serta kemampuan beradaptasi terhadap cuaca dinamis yang menjadi fitur andalan simulator tersebut.
Lima belas pembalap terbaik dari lima negara Asia berkumpul di Bangkok. Tekanan sangat tinggi, mengingat tahun sebelumnya dominasi Indonesia sempat terganggu. Namun, trio Andika-Moreno-Farizi datang dengan satu misi: Redemption dan Dominasi.
Race 1: Suzuka dan Kekacauan Hujan

Kompetisi dibuka dengan drama di Sirkuit legendaris Suzuka, Jepang. Menggunakan mobil spesifikasi Gr.3, para pembalap langsung dihadapkan pada mimpi buruk setiap pembalap: hujan deras yang turun tiba-tiba di pertengahan lomba.
Di sinilah pengalaman berbicara. Andika “RamStig” Rama, veteran yang telah malang melintang di dunia sim racing internasional selama lebih dari satu dekade, menunjukkan kelasnya. Ketika pembalap Malaysia, Taj Aiman, yang memimpin di awal lomba mulai kesulitan dengan cengkeraman ban saat lintasan berubah basah, Rama membuat keputusan strategis yang brilian terkait pemilihan jalur balap (racing line) basah.
“Kuncinya ada di S-Curves sektor satu. Saat yang lain melebar karena aquaplaning, saya menjaga mobil tetap di gigi tinggi untuk meminimalisir wheelspin,” ujar Rama dalam wawancara pasca-lomba. Ketenangan ini membawanya finis pertama, diikuti oleh rekan senegaranya, Moreno Pratama, yang sukses melakukan damage limitation di tengah kondisi licin. Farizi Pramaditya bermain aman demi mengamankan poin tim, memastikan ketiga mobil Indonesia finis di zona poin tinggi.
Race 2: Ujian Kekompakan di Interlagos
Drama berlanjut ke benua Amerika Selatan, tepatnya di sirkuit Interlagos, Brasil. Race kedua ini menggunakan format Endurance dengan mobil Toyota GR010 Hybrid—monster Le Mans yang membutuhkan presisi tinggi.
Format ini adalah ujian sesungguhnya bagi “Sapu Bersih” Indonesia. Berbeda dengan balapan sprint, balapan ini mewajibkan pergantian pengemudi (driver swap) dan manajemen bahan bakar yang ketat. Di sinilah peran Farizi Pramaditya menjadi sangat vital. Meski sorotan kerap tertuju pada Rama dan Moreno, Farizi adalah “jangkar” yang menjaga konsistensi waktu putaran saat kondisi ban sudah mulai aus.
Meskipun tim Malaysia sempat mencuri kemenangan di sesi ini berkat strategi undercut pit stop yang agresif (selisih kemenangan hanya 17 detik), trio Indonesia tetap tenang. Mereka finis di posisi kedua yang solid. Poin yang dikumpulkan Farizi di sesi ini menjadi pondasi yang sangat penting bagi klasemen Country Championship. Tanpa konsistensi Farizi menahan gempuran pembalap Singapura, Fadtris Isa, di sektor tengah, Indonesia bisa saja kehilangan poin krusial.
Race 3: The Grand Final di Watkins Glen
Penentuan gelar juara terjadi di sirkuit cepat Watkins Glen, Amerika Serikat, menggunakan GR Supra Race Car ’19. Situasinya jelas: Rama memimpin klasemen individu, tetapi Moreno mengintai di posisi kedua, dan Chong Kai Chang (Malaysia) masih memiliki peluang matematis.
Balapan berlangsung selama 14 lap dengan intensitas tinggi. Sejak lampu hijau menyala, duo Indonesia, Rama dan Moreno, langsung membentuk formasi slipstream untuk menjauh dari rombongan (pack). Kerja sama tim ini—sebuah taktik di mana dua mobil beriringan untuk membelah angin—membuat rival-rival di belakang kesulitan mengejar.
Namun, drama terjadi di 3 lap terakhir. Fadtris Isa (Singapura) melakukan manuver “kamikaze”, mencoba memecah formasi 1-2 Indonesia. Moreno Pratama, menunjukkan kedewasaan balap yang luar biasa, tidak terpancing emosi. Ia mempertahankan posisinya dengan defensif yang bersih, membiarkan Rama melesat di depan untuk mengamankan posisi pertama.
Andika Rama menyentuh garis finis, mengangkat kepalan tangan ke udara, diikuti Moreno di posisi kedua. Kemenangan 1-2 di balapan final ini secara otomatis mengunci dua gelar sekaligus: Juara Individu untuk Rama (74 Poin) dan Juara Negara untuk Indonesia (169 Poin).
Analisis Kemenangan: Mengapa Indonesia Begitu Dominan?
Menyapu bersih kemenangan di level Asia bukanlah hal mudah. Ada tiga faktor kunci yang membuat trio RamStig, Moreno, dan Farizi tak tersentuh di Bangkok tahun ini:
-
Regenerasi yang Berhasil: Kombinasi Andika Rama sebagai mentor dan veteran dengan talenta muda seperti Moreno dan Farizi terbukti mematikan. Rama membawa ketenangan dan strategi, sementara Moreno dan Farizi membawa kecepatan murni (raw pace) yang agresif.
-
Adaptabilitas Teknis: TGR 2025 menekankan pada dynamic weather dan manajemen ban. Pembalap Indonesia terlihat paling siap menghadapi perubahan grip lintasan. Saat pembalap lain panik ketika hujan turun di Suzuka, pembalap Indonesia justru semakin cepat. Ini menandakan jam terbang latihan (practice hours) yang tinggi dalam simulasi kondisi ekstrem.
-
Kolektivitas Tim (Team Order): Tidak ada ego. Di Watkins Glen, terlihat jelas bagaimana Farizi dan Moreno rela menahan laju lawan demi memuluskan jalan bagi Rama, atau sebaliknya, demi poin maksimal negara. Ini adalah kedewasaan esports yang jarang terlihat di tim-tim rival yang seringkali balapan untuk diri sendiri.
Komentar Para Juara
Ditemui usai penyerahan trofi dan hadiah total ribuan Dolar AS, Andika Rama tampak emosional. Ini adalah gelar keduanya setelah tahun 2023, namun ia menyebut kemenangan kali ini lebih manis.
“Tahun lalu kita terpukul. Tahun ini kita kembali dengan dendam positif. Kemenangan ini bukan cuma buat saya, tapi bukti bahwa sim racing Indonesia punya sistem pembinaan yang jalan. Moreno dan Farizi balapan seperti singa hari ini. Gelar Country Championship adalah yang paling membanggakan karena kami naik podium bertiga,” ujar Rama.
Moreno Pratama, sang Runner-up, menambahkan, “Balapan di Interlagos sangat melelahkan secara mental. Tapi ketika melihat papan skor dan Indonesia ada di puncak klasemen negara, rasanya semua terbayar. Kami datang untuk menyapu bersih, dan kami melakukannya.”
Dampak bagi Industri Esports Indonesia
Kesuksesan “Sapu Bersih” di Bangkok ini memiliki implikasi besar. Pertama, ini memperkuat posisi Indonesia di mata Toyota Gazoo Racing global, yang berpotensi membuka jalan bagi pembalap Indonesia untuk berkompetisi di TGR GT Cup Global Finals melawan pembalap Eropa dan Jepang.
Kedua, kemenangan ini menjadi validasi bagi ekosistem sim racing lokal. Bahwa video game balap bukan sekadar mainan, melainkan cabang olahraga yang membutuhkan disiplin atlet, pemahaman fisika, dan strategi tingkat tinggi.
Malam ini di Bangkok, bendera Merah Putih berkibar paling tinggi. Andika Rama, Moreno Pratama, dan Farizi Pramaditya tidak hanya membawa pulang piala; mereka membawa pulang kebanggaan dan standar baru bagi balap virtual Asia.
Hasil Akhir TGR Asia Esports GT Championship 2025:
Kategori Individu:
-
Andika Rama Maulana (Indonesia) – 74 Poin
-
Moreno Pratama (Indonesia) – 62 Poin
-
Chong Kai Chang (Malaysia) – 59 Poin
Kategori Negara (Country Championship):
-
Indonesia (Rama/Moreno/Farizi) – 169 Poin
-
Malaysia – 151 Poin
-
Singapura – 93 Poin
