MANILA — Sejarah emas kembali terukir di langit esports Honor of Kings. Dalam sebuah pertunjukan dominasi yang nyaris tak masuk akal, HomeBois BSE (HBSE) berhasil mempertahankan takhta mereka sebagai penguasa dunia dengan menjuarai Honor of Kings International Championship (KIC) 2025. Bertanding di Ayala Malls Manila Bay, Filipina, pada Minggu, 30 November 2025, sang juara bertahan membungkam keraguan dan kritikan dengan kemenangan telak 4-0 atas rival senegaranya, Nova Esports.

Kemenangan ini bukan sekadar trofi tambahan di lemari mereka; ini adalah pernyataan tegas bahwa era ini adalah milik HomeBois. Dengan titel ini, mereka resmi menyandang status Back-To-Back World Champion, melanjutkan warisan kemenangan mereka dari tahun 2024 (saat masih bernama Black Shrew Esport).
All-Malaysian Final: Panggung Balas Dendam yang Sempurna
Narasi yang terbangun menuju Grand Final ini terasa seperti naskah film blockbuster. Publik sempat dibuat terhenyak ketika Nova Esports—tim yang sering dianggap underdog dibandingkan HBSE—secara mengejutkan membantai HomeBois dengan skor 4-1 di babak Upper Bracket Final sehari sebelumnya. Kekalahan itu melempar HomeBois ke kawah candradimuka, memaksa mereka merenung dan menata ulang strategi.
Banyak analis memprediksi Nova Esports memiliki momentum psikologis. Namun, mental juara berbicara lain. “Luka” dari kekalahan di Upper Bracket justru menjadi bensin yang membakar semangat MusangKing dan kawan-kawan. Mereka datang ke panggung Grand Final bukan dengan rasa takut, melainkan dengan kalkulasi dingin dan amarah yang terukur.
Atmosfer di Ayala Malls Manila Bay begitu riuh. Meski tuan rumah Blacklist International telah gugur, ribuan pasang mata menjadi saksi bisu bentrokan dua raksasa Malaysia ini. Sorak-sorai penonton mengiringi setiap draft pick, namun yang terjadi di Land of King adalah pembantaian sepihak yang sunyi dan mematikan.
Jalannya Pertandingan: Sebuah Masterclass Taktikal
Format Best of 7 (BO7) yang biasanya menguras stamina dan mental, kali ini diselesaikan dengan efisiensi yang menakutkan oleh HomeBois.
Game 1 & 2: Dominasi Awal yang Meruntuhkan Mental Sejak peluit pertama berbunyi, HomeBois langsung tancap gas. Tidak ada keraguan, tidak ada permainan pasif. Mereka mengontrol map dengan presisi militer. Rotasi dari GuiYu (Mid Laner) dan agresivitas MusangKing (Jungler) membuat Nova Esports terkurung di area pertahanan sendiri. Nova, yang dikenal dengan ketangguhan defensifnya, tampak kebingungan menghadapi tempo permainan HBSE yang jauh lebih cepat dibanding pertemuan mereka sehari sebelumnya. Dua game pertama diamankan dengan relatif cepat, membuat skor langsung 2-0. Wajah para pemain Nova mulai terlihat tegang; rencana permainan mereka berantakan di hadapan adaptasi taktis HBSE.
Game 3: Momen Kunci dan Combo Maut Game ketiga menjadi titik di mana harapan Nova Esports benar-benar patah. Nova mencoba bangkit dengan melakukan invade agresif ke area jungle HBSE. Sebuah teamfight pecah di menit ke-9, momen yang seharusnya menjadi titik balik bagi Nova.
Namun, di sinilah kelas berbicara. Kombinasi maut antara Arli dan Ata yang dimainkan anak-anak HBSE menjadi mimpi buruk. Dengan positioning yang brilian, mereka membalikkan keadaan, menumbangkan dua pemain kunci Nova secara instan. Tidak membuang waktu, HBSE memanfaatkan gelombang minion di jalur bawah, merangsek masuk dan menghancurkan base Nova. Skor 3-0. Nova Esports berada di ujung tanduk, sementara HomeBois hanya butuh satu langkah lagi menuju keabadian.
Game 4: Ketenangan Sang Juara Di game penentuan, kedua tim bermain lebih hati-hati. Nova Esports bermain “mati-matian” untuk setidaknya mencuri satu poin agar tidak terkena clean sweep yang memalukan. Namun, HomeBois bermain seperti predator yang sabar mengintai mangsa.
Kuncinya terjadi saat perebutan Overlord. HomeBois berhasil mengamankan objektif vital tersebut dan langsung melakukan push terkoordinasi. Inisiasi dari VV yang sukses menumbangkan pemain Nova, Xuan, menjadi lonceng kematian. Pertahanan Nova runtuh seketika. Pemain Nova satu per satu hilang dari peta, menyisakan Crystal mereka yang terbuka lebar. Dalam serbuan terakhir yang tak terbendung, HomeBois menghancurkan markas lawan, mengunci kemenangan 4-0, dan langsung melompat dari kursi mereka dalam euforia kemenangan.
GuiYu: Sang Jenderal Lapangan (FMVP)
Di balik permainan tim yang solid, sosok GuiYu berdiri paling mencolok. Performa konsistennya sepanjang turnamen, dan ketenangannya di babak Grand Final, membuatnya dianugerahi gelar Finals MVP (FMVP). GuiYu bukan hanya sekadar memberikan damage; ia adalah otak yang mengatur tempo, melakukan zoning terhadap carry lawan, dan memastikan setiap teamfight berada dalam kendali HomeBois.
“Ini adalah kerja keras tim. Kami kalah kemarin, kami belajar, dan hari ini kami buktikan siapa raja sebenarnya,” ujar GuiYu dalam wawancara pasca-pertandingan, disambut gemuruh tepuk tangan penonton.
Sejarah Baru: Dari Black Shrew ke HomeBois BSE
Kemenangan ini memiliki makna historis yang dalam. Pada tahun 2024, roster inti ini (di bawah bendera Black Shrew Esport) mengejutkan dunia dengan menjadi juara. Akuisisi dan rebranding menjadi HomeBois BSE tidak mengubah DNA juara mereka. Justru, dukungan manajemen yang lebih besar membuat mereka semakin tak tersentuh.

Menjuarai turnamen tingkat dunia dua kali berturut-turut (back-to-back) adalah prestasi yang sangat langka di dunia esports yang dinamis, di mana META permainan selalu berubah. HomeBois BSE telah membuktikan bahwa mereka bukan “one-hit wonder”. Mereka adalah dinasti. Roster yang terdiri dari GuiYu, MusangKing, ZhiHong, VV, dan Same kini sah ditahbiskan sebagai salah satu lineup terbaik sepanjang sejarah Honor of Kings.
Dominasi Malaysia di Kancah Global
KIC 2025 juga menjadi panggung pembuktian bagi ekosistem esports Malaysia. Tidak hanya menyajikan All-Malaysian Final, posisi ketiga juga diamankan oleh tim Malaysia lainnya, Alpha Gaming.
Ini berarti seluruh podium juara (Juara 1, 2, dan 3) disapu bersih oleh tim asal Negeri Jiran. Ini adalah tamparan keras bagi region lain seperti Tiongkok, Thailand, dan tuan rumah Filipina, sekaligus sinyal bahaya bahwa Malaysia kini adalah pusat kekuatan baru Honor of Kings dunia.
Apa Selanjutnya?
Dengan hadiah uang tunai yang fantastis dan tiket otomatis ke Honor of Kings Challenger Cup 2025, masa depan HomeBois terlihat cerah. Namun, tantangan terberat bagi seorang juara bukanlah merebut gelar, melainkan mempertahankannya—dan HomeBois telah sukses melakukan hal yang nyaris mustahil tersebut.
Malam itu di Manila, di bawah hujan konfeti emas, HomeBois BSE berdiri tegak. Mereka datang, mereka melihat, dan sekali lagi, mereka menaklukkan dunia. Bagi Nova Esports, ini adalah pelajaran pahit tentang konsistensi. Bagi dunia, ini adalah peringatan: Dinasti HomeBois baru saja dimulai, dan sepertinya mereka belum berniat turun takhta dalam waktu dekat.
