KUALA LUMPUR – Atmosfer di plenary hall Kuala Lumpur terasa begitu mencekam sekaligus membakar semangat pada Rabu, 3 Desember 2025. Gelaran IESF World Esports Championship (WEC) 2025 resmi dimulai, dan hari pertama bukanlah panggung bagi mereka yang ragu-ragu. Hari pertama adalah panggung pembantaian.

Tidak ada istilah “pemanasan”. Empat negara unggulan langsung tancap gas, menghancurkan lawan-lawan mereka tanpa ampun, mengirimkan pesan mengerikan ke seluruh dunia: Piala ini bukan untuk sembarang penantang.
Berikut adalah ulasan dramatis dari 4 negara terkuat yang mengubah arena pertandingan menjadi ladang pembantaian di Day 1.
1. MALAYSIA: Auman Sang Tuan Rumah yang Menggetarkan Jiwa
(Skor: 2-0 vs Iran)
Sebagai tuan rumah, beban di pundak Timnas Malaysia begitu berat. Ribuan pasang mata menatap, menanti apakah mereka akan runtuh di bawah tekanan atau justru meledak. Jawabannya datang dalam bentuk dominasi mutlak.
Melawan Iran di laga pembuka Grup A, Malaysia tidak memberikan napas sedikitpun.
-
Game 1: Malaysia bermain seperti predator yang sabar. Mereka mengontrol map dengan disiplin tingkat dewa, mencekik sumber daya Iran perlahan-lahan sebelum melakukan wipe-out yang presisi. Sorakan penonton pecah ketika base Iran hancur dalam waktu yang relatif singkat.
-
Game 2: Jika game pertama adalah taktik, game kedua adalah eksekusi brutal. Rotasi cepat (fast rotation) dari para pemain Malaysia membuat Iran kocar-kacir. Draft pick yang cerdas mengunci pergerakan hero andalan Iran, memaksa mereka bermain defensif sepanjang laga.
Skor akhir 2-0 bukan sekadar kemenangan; itu adalah pernyataan bahwa sang Harimau Malaya sedang lapar dan siap memangsa siapa saja di tanah kelahirannya sendiri.
2. INDONESIA: Sayap Garuda Mencabik Tanpa Ampun
(Skor: 2-0 vs Kazakhstan)
Di Grup C, Timnas Indonesia datang dengan satu misi: Penebusan dan Kejayaan. Melawan Kazakhstan, tim Merah Putih mempertontonkan perbedaan kelas yang nyata—bagaikan langit dan bumi.
-
Game 1: Indonesia bermain dengan pace yang mengerikan. Sejak menit awal, invasi jungle yang agresif membuat core pemain Kazakhstan miskin gold dan exp. Tidak ada kontes Lord yang berarti; semuanya milik Indonesia. Koordinasi team fight yang rapi membuat pertahanan Kazakhstan runtuh seperti rumah kartu.
-
Game 2: Kazakhstan mencoba melawan, namun mekanik individu pemain Indonesia terlalu tinggi. Aksi outplay di gold lane dan penguasaan objektif yang sempurna menutup perlawanan Kazakhstan dengan skor telak 2-0.
Kemenangan ini disebut oleh para analis sebagai “sangat meyakinkan”. Tidak ada drama, tidak ada throw, hanya eksekusi dingin dari sebuah mesin pembunuh bernama Timnas Indonesia. Mereka selangkah lebih dekat untuk mengunci tiket playoff dan membuktikan diri sebagai favorit juara.
3. MYANMAR: Sang Kuda Hitam yang Tak Pernah Padam
(Skor: 2-0 vs Mongolia)
Jangan pernah meremehkan Myanmar. Negara yang selalu melahirkan talenta-talenta “gila” dengan meta unik ini kembali menunjukkan taringnya di Grup D. Melawan Mongolia, Myanmar bermain dengan gaya khas mereka: agresif, nekat, tapi penuh perhitungan.
-
Game 1 & 2: Mongolia, yang datang dengan harapan tinggi, dipaksa tunduk oleh permainan makro Myanmar yang superior. Myanmar tidak hanya menang di lane, mereka menang di mind game. Tekanan terus-menerus di semua lini membuat Mongolia terkurung di base mereka sendiri.
-
Kemenangan 2-0 ini menegaskan status Myanmar sebagai “The Dark Horse” yang sebenarnya. Mereka bukan sekadar partisipan; mereka adalah ancaman nyata bagi dominasi poros kekuatan tradisional seperti Filipina dan Indonesia. Kemenangan ini mengirim sinyal bahaya ke seluruh kontestan Grup D.
4. KAMBOJA: Kebangkitan Sang Tetangga Berisik
(Skor: 2-0 vs Nepal)
Di Grup B, sorotan tertuju pada Kamboja. Negara yang perkembangan esports-nya melesat bak roket dalam dua tahun terakhir ini membuktikan bahwa mereka bukan lagi tim pelengkap. Melawan Nepal, Kamboja tampil trengginas.
-
Jalannya Pertandingan: Kamboja mendominasi total dua game langsung. Mereka menunjukkan kedewasaan permainan yang luar biasa—objektif diutamakan, kill hanyalah bonus. Nepal yang mencoba bermain aman justru dihukum oleh ganking efektif dari Kamboja.
-
Kemenangan 2-0 ini menempatkan Kamboja sebagai salah satu kekuatan baru yang menakutkan di Asia Tenggara (SEA). Mereka bukan lagi “tim bawang”; mereka adalah contender serius yang siap menjegal raksasa manapun yang lengah.
KESIMPULAN: Perang Baru Saja Dimulai
Hari pertama IESF WEC 2025 telah menetapkan standar yang sangat tinggi. Malaysia, Indonesia, Myanmar, dan Kamboja tidak hanya menang; mereka mendominasi. Keempat negara ini telah mengamankan poin krusial dan momentum psikologis yang masif.
Namun, ini baru permulaan. Lawan-lawan yang lebih tangguh menanti di hari kedua. Apakah dominasi ini akan berlanjut, ataukah akan ada kejutan yang membalikkan keadaan? Satu hal yang pasti: Kuala Lumpur sedang membara, dan dunia esports sedang menyaksikan sejarah yang ditulis dengan tinta emas dan keringat para juara.
Saksikan terus kelanjutan IESF WEC 2025!
