SEOUL – Ekosistem VALORANT di Asia Pasifik kembali diguncang kabar mengejutkan. Belum kering tinta sejarah yang mencatat kepergian Bleed Esports pada akhir 2024 lalu, kini badai finansial kembali memakan korban. Talon Esports, organisasi raksasa yang berbasis di Hong Kong dan menjadi representasi utama Thailand, secara resmi dinyatakan “keluar” dari kemitraan VCT Pacific 2026 oleh Riot Games per pertengahan November 2025.

Keputusan tegas ini diambil setelah audit finansial ketat yang dilakukan Riot Games menjelang musim 2026, di mana Talon dinilai gagal memenuhi kewajiban manajemen dan stabilitas keuangan yang menjadi syarat mutlak franchise league. Situasi ini menciptakan satu slot kosong (Franchise Slot) yang sangat berharga di liga tier-1 VALORANT Asia. Berbeda dengan slot Ascension yang bersifat sementara (2 tahun), slot yang ditinggalkan Talon adalah slot mitra jangka panjang.

Pertanyaannya sekarang bukan lagi “mengapa”, melainkan “siapa”. Siapa yang memiliki infrastruktur, finansial, dan basis massa yang cukup kuat untuk menggantikan Talon Esports? Berdasarkan data performa di Ascension Pacific 2025 yang baru saja berakhir di Bangkok bulan lalu, serta analisis pasar, berikut adalah ulasan mendalam mengenai 3 Kandidat Terkuat untuk mengisi kekosongan tersebut.
1. Nongshim RedForce (Korea Selatan) – The Sporting Choice
Jika Riot Games memprioritaskan meritokrasi dan performa kompetitif di atas segalanya, maka Nongshim RedForce adalah kandidat nomor satu yang tak terbantahkan.
Rekam Jejak Faktual
Pada gelaran VCT Ascension Pacific 2025 yang rampung Oktober lalu, Nongshim RedForce tampil beringas. Meskipun mereka harus puas sebagai Runner-up setelah kalah tipis dari sesama tim Korea, SLT Seongnam, di Grand Final, performa mereka sepanjang tahun sangat konsisten.
-
Kekuatan Roster: Nongshim memiliki struktur akademi yang sangat solid. Pemain kunci mereka seperti Dambi (Duelist) mencatatkan statistik ACS (Average Combat Score) tertinggi kedua di seluruh turnamen Ascension.
-
Stabilitas Organisasi: Sebagai organisasi yang disokong oleh perusahaan makanan raksasa Korea (Nongshim), stabilitas finansial mereka jauh lebih terjamin dibandingkan organisasi esports murni. Ini adalah poin plus besar mengingat alasan dikeluarkannya Talon dan Bleed adalah masalah uang.
Analisis Peluang
Mengangkat Runner-up Ascension untuk mengisi slot kosong bukanlah hal baru. Riot pernah melakukan ini saat mempromosikan BOOM Esports untuk menggantikan Bleed di musim 2025 (meskipun slot tersebut adalah slot Ascension yang diwariskan). Kelemahan utama Nongshim hanyalah masalah demografi. Dengan naiknya SLT Seongnam (Juara Ascension 2025), liga VCT Pacific 2026 sudah akan memiliki 5 tim Korea (DRX, Gen.G, T1, SLT, Nongshim?). Menambah satu lagi tim Korea mungkin akan membuat liga ini terlalu “Korea-sentris” dan mengurangi keberagaman regional yang diinginkan Riot.
2. FULL SENSE (Thailand) – The Regional Savior
Jika Riot Games melihat dari kacamata geopolitik dan kesehatan ekosistem regional, FULL SENSE adalah jawaban yang paling logis untuk menyelamatkan pasar Thailand.
Rekam Jejak Faktual
Keluarnya Talon Esports adalah pukulan telak bagi komunitas VALORANT Thailand, salah satu basis massa terbesar di Asia Tenggara. Tanpa Talon, Thailand praktis kehilangan representasi langsung di level franchise. FULL SENSE, yang pernah mencicipi panggung dunia di VALORANT Champions 2021, adalah organisasi terbesar kedua di negara tersebut.
-
Basis Fanatik: FULL SENSE memiliki “Yellow Army”, salah satu basis penggemar paling loyal dan berisik di Asia Tenggara. Watch party mereka selalu penuh, dan keterlibatan media sosial mereka sangat tinggi.
-
Performa 2025: Di Ascension Pacific 2025, FULL SENSE finis di posisi 4 besar. Meskipun secara teknis di bawah Nongshim dan BOOM, mereka adalah tim Thailand dengan performa terbaik.
Analisis Peluang
Riot Games tentu tidak ingin kehilangan pasar Thailand. Mengganti tim Thailand (Talon) dengan tim Thailand lain (FULL SENSE) adalah langkah paling aman untuk menjaga viewership. Selain itu, CEO FULL SENSE telah berulang kali menyatakan kesiapan finansial mereka untuk naik ke liga utama. Secara narasi, kembalinya FULL SENSE ke tier-1 akan menjadi cerita “Cinderella” yang sangat menjual, mengingat perjuangan mereka dari tier-2 yang tak kenal lelah selama 3 tahun terakhir.
3. BOOM Esports (Indonesia) – The Community Giant
Kandidat ketiga, dan mungkin yang paling “berisik” di media sosial, adalah raksasa dari Indonesia, BOOM Esports.
Rekam Jejak Faktual
Situasi BOOM Esports cukup unik. Mereka sempat mencicipi VCT Pacific 2025 (menggantikan Bleed untuk sisa durasi slot Ascension), namun harus kembali turun gunung setelah masa slot tersebut habis atau terdegradasi (tergantung interpretasi teknis pasca-musim 2025). Di Ascension Pacific 2025, BOOM finis di posisi ke-3, tepat di bawah Nongshim RedForce.
-
Dominasi Pasar: Indonesia adalah pasar mobile dan PC terbesar di Asia Tenggara. Viewership VCT Pacific sering kali didorong oleh penonton Indonesia. Kehilangan representasi Indonesia (selain RRQ) akan berdampak signifikan pada angka penonton siaran langsung.
-
Kualitas Pemain: Dengan pemain bintang seperti Famouz (sebelum rumor transfer) dan BerserX, BOOM selalu memiliki daya ledak. Mereka telah membuktikan bisa bersaing dengan tim tier-1 selama musim 2025, meskipun hasilnya belum maksimal.
Analisis Peluang
Memilih BOOM Esports adalah keputusan bisnis yang cerdas. Rivalitas antara BOOM dan RRQ (“Indo Pride Derby”) adalah salah satu match dengan viewership tertinggi di VCT Pacific. Riot sangat menyukai angka, dan BOOM membawa angka tersebut. Namun, tantangan terberat BOOM adalah membuktikan bahwa mereka memiliki stabilitas manajemen jangka panjang yang lebih baik daripada Talon, serta bersaing argumen dengan Nongshim yang secara murni “lebih jago” di turnamen terakhir.
Faktor X: Bursa Transfer dan “Vetting Process”
Penting untuk dicatat bahwa Riot Games tidak serta merta memilih tim berdasarkan urutan juara Ascension saja untuk slot Partnership (bukan slot promosi). Proses vetting (pemeriksaan latar belakang) akan sangat ketat, meliputi:
-
Runway Finansial: Apakah tim memiliki uang tunai untuk operasional 3-5 tahun ke depan?
-
Rencana Konten: Seberapa bagus tim dalam mempromosikan liga?
-
Fasilitas: Ketersediaan bootcamp di Seoul.
Dalam rilis resmi terkait keluarnya Talon (21 Nov 2025), Riot menyebutkan bahwa “pencarian organisasi pengganti sedang berlangsung”. Ini membuka kemungkinan kecil bagi “Kuda Hitam” seperti organisasi Jepang (RIDDLE ORDER atau FENNEL) atau bahkan organisasi Barat yang ingin ekspansi ke Asia (seperti G2 atau FlyQuest, meski kecil kemungkinannya).
3 Kandidat Yang Akan Menjadi Pengganti Talon
Keluarnya Talon Esports di penghujung 2025 adalah peringatan keras bahwa ekosistem esports sedang mengalami koreksi pasar yang brutal. Slot kosong ini bukan sekadar hadiah, melainkan tanggung jawab besar.
-
Pilih Nongshim RedForce jika ingin kompetisi yang paling hardcore dan berkualitas tinggi.
-
Pilih FULL SENSE jika ingin menyelamatkan hati penggemar Thailand dan menjaga keseimbangan regional.
-
Pilih BOOM Esports jika ingin meledakkan angka viewership dan engagement liga.
Keputusan ada di tangan Riot Games. Pengumuman resmi diprediksi akan rilis pada awal Desember 2025, sebelum kick-off musim 2026 dimulai. Siapapun yang terpilih, beban berat untuk tidak berakhir seperti Bleed atau Talon sudah menanti di pundak mereka.
