JAKARTA, 8 Desember 2025 – Kabar mengejutkan sekaligus memilukan datang dari kancah esports Asia Tenggara hari ini. Salah satu organisasi esports terbesar di Indonesia, BOOM Esports, secara resmi mengumumkan pembubaran divisi Dota 2 mereka. Pengumuman yang dirilis pada Senin, 8 Desember 2025, ini menandai berakhirnya perjalanan panjang selama delapan tahun dari tim berjuluk “The Hungry Beast” di kompetisi MOBA besutan Valve tersebut.

Keputusan ini disampaikan langsung melalui kanal media sosial resmi BOOM Esports, yang seketika memicu gelombang reaksi dari komunitas Dota 2, baik di tanah air maupun mancanegara. Langkah drastis ini diambil menyusul rentetan hasil kurang memuaskan sepanjang musim kompetisi 2024 dan 2025, yang berpuncak pada kegagalan tim untuk berbicara banyak di panggung The International 2025 (TI14).
Detik-Detik Pengumuman
Tepat pukul 12.00 WIB, akun Twitter/X dan Instagram resmi BOOM Esports mengunggah sebuah grafis perpisahan bernuansa hitam-putih dengan tajuk “Farewell Dota 2”. Dalam keterangan resminya, manajemen mengucapkan terima kasih kepada seluruh pemain, staf, dan tentu saja para penggemar setia yang telah menemani pasang surut tim sejak didirikan pada tahun 2017.
“Hari ini, kami mengucapkan selamat tinggal kepada divisi Dota 2 kami. Sebuah perjalanan yang penuh dengan gairah, tantangan, dan kenangan yang akan selalu kami bawa. Terima kasih kepada setiap pemain yang mengenakan jersey BOOM dengan bangga. Terima kasih kepada Hungry Beast yang berdiri di samping kami dalam setiap suka dan duka. Bab ini ditutup, tetapi kisah kami di esports terus berlanjut,” tulis pernyataan resmi tersebut.

CEO BOOM Esports, Gary Ongko Putera, yang dikenal memiliki passion mendalam terhadap Dota 2, turut memberikan pernyataan terpisah. Ia menegaskan bahwa keputusan ini adalah langkah bisnis yang berat namun perlu diambil demi keberlanjutan organisasi di tengah ekosistem esports yang semakin kompetitif dan menuntut efisiensi.
Analisis Penyebab: Turbulensi Musim 2024-2025
Keputusan untuk membubarkan divisi ini tidak terjadi dalam semalam. Para pengamat esports menilai bahwa tahun 2025 adalah tahun terberat bagi BOOM Esports secara performa.
Sepanjang tahun 2024, BOOM Esports berjuang keras untuk menemukan konsistensi. Setelah melakukan perombakan roster besar-besaran dengan mendatangkan talenta internasional, tim ini justru kesulitan membangun chemistry. Puncaknya terjadi pada musim DPC (Dota Pro Circuit) 2025—yang kini telah bertransformasi menjadi sirkuit terbuka—di mana BOOM gagal mengamankan slot di sebagian besar turnamen Major (Tier 1).
Pukulan telak terakhir terjadi pada ajang The International 2025 yang digelar di Hamburg, Jerman, pada September lalu. Meski berhasil lolos melalui kualifikasi regional yang ketat, performa BOOM di panggung utama jauh dari harapan. Mereka harus puas finis di posisi juru kunci (17th-18th place) setelah gagal memenangkan satu pun seri di babak grup dan langsung tereliminasi di ronde pertama Lower Bracket.
Ketidakmampuan bersaing dengan tim-tim raksasa Eropa dan Tiongkok, serta semakin ketatnya persaingan di regional SEA (Southeast Asia) dengan bangkitnya tim-tim baru seperti Aurora dan Blacklist International, disinyalir menjadi faktor utama manajemen “melempar handuk”.
Kilas Balik: Dari “Indo Pride” Menjadi Raksasa SEA
Untuk memahami besarnya dampak berita ini, kita harus menengok ke belakang. BOOM Esports (sebelumnya bernama BOOM ID) didirikan dengan visi mulia: membawa talenta Indonesia ke panggung dunia.
Era 2017-2020 (The Indo Pride): Pada masa-masa awal, BOOM dikenal dengan roster “full Indo” yang legendaris, dihuni oleh nama-nama seperti Dreamocel, inYourdreaM, SaintDeLucaz, Jhocam, dan Khezcute. Di era ini, mereka adalah raja lokal yang tak tergoyahkan dan sering kali menjadi “kuda hitam” yang menakutkan di kualifikasi Asia Tenggara. Julukan “Indo Pride” melekat erat karena mereka adalah satu-satunya tim yang berani tampil dengan 100% pemain lokal di level tinggi.
Era 2021-2022 (The Golden Era): Titik balik terbesar terjadi ketika manajemen memutuskan untuk melakukan ekspansi internasional (go international) dengan merekrut pemain asing demi mendongkrak prestasi. Keputusan ini berbuah manis pada tahun 2022. Dengan roster bertabur bintang seperti Yopaj, Fbz, Tims, Skem, dan JaCkky, BOOM Esports mencapai puncak kejayaannya.
Momen paling bersejarah terjadi pada Maret 2022, ketika mereka menjuarai GAMERS GALAXY: Invitational Series Dubai 2022. Di turnamen tersebut, BOOM secara mengejutkan mengalahkan tim-tim terbaik dunia, termasuk Tundra Esports (yang kemudian menjadi juara TI11) di babak Grand Final. Kemenangan itu menempatkan BOOM sebagai tim terbaik di Asia Tenggara dan salah satu yang disegani di dunia. Mereka juga berhasil lolos ke The International 2022 (TI11) di Singapura dan mencatatkan kemenangan dramatis atas juara bertahan Team Spirit, sebuah momen yang akan selalu dikenang sebagai salah satu highlight terbesar sejarah Dota 2 SEA.
Nasib Roster Terakhir
Pertanyaan besar yang muncul setelah pembubaran ini adalah: ke mana para pemain akan berlabuh? Roster terakhir BOOM Esports yang bertanding di penghujung 2025 terdiri dari:
-
Nuengnara “23savage” Teeramahanon (Carry)
-
Sukhbat “sanctity-” Otgondavaa (Midlaner)
-
Anucha “Jabz” Jirawong (Offlaner/Captain)
-
Tri “Jhocam” Kuncoro (Support)
-
Ravdan “NARMAN” Narmandakh (Hard Support)
Menurut laporan dari berbagai sumber terpercaya seperti GosuGamers dan Liquipedia, para pemain ini tidak akan pensiun. Mayoritas dari mereka, termasuk 23savage, Jabz, dan Jhocam, dikabarkan telah direkrut oleh tim baru bernama “Team Nemesis”. Menariknya, posisi midlaner yang sebelumnya diisi oleh sanctity- akan digantikan oleh Joao “4nalog” Giannini. Hal ini mengindikasikan bahwa meskipun bendera BOOM telah diturunkan, semangat para pemainnya masih akan terus berkobar di bawah panji yang berbeda.
Dampak Bagi Ekosistem Esports Indonesia
Penutupan divisi Dota 2 BOOM Esports adalah kehilangan besar bagi ekosistem esports Indonesia. Selama hampir satu dekade, BOOM menjadi barometer kesuksesan organisasi esports lokal dalam mengelola divisi game PC. Mereka adalah bukti bahwa manajemen profesional dari Indonesia mampu bersaing di level global.
Hilangnya BOOM dari peta Dota 2 menyisakan kekosongan. Saat ini, fokus industri esports Indonesia tampaknya semakin bergeser ke ranah mobile gaming (Mobile Legends, PUBG Mobile, Honor of Kings) yang pasarnya jauh lebih masif dan menguntungkan secara bisnis di kawasan ini. Langkah BOOM ini seolah mengonfirmasi tren tersebut; bahwa mempertahankan tim Dota 2 kelas dunia memerlukan biaya operasional yang astronomis dengan risiko finansial yang tinggi jika gagal berprestasi.
Masa Depan BOOM Esports
Meski meninggalkan Dota 2, BOOM Esports sebagai organisasi masih sangat sehat dan aktif. Dalam siaran persnya, manajemen menegaskan akan mengalihkan fokus dan sumber daya mereka ke divisi lain yang sedang naik daun.
Divisi VALORANT mereka baru saja mendapatkan promosi ke liga franchise VCT Pacific, sebuah pencapaian prestisius yang menjamin stabilitas pendapatan dan eksposur. Selain itu, divisi PUBG Mobile mereka terus mendominasi skena lokal dan dunia, serta divisi Honor of Kings yang baru dibentuk menunjukkan potensi besar.
“Hungry Beast tidak mati, kami hanya berevolusi,” ujar Gary Ongko menutup pernyataannya.
Thank you & See you again

8 Desember 2025 akan dicatat sebagai hari yang kelabu bagi penggemar Dota 2 Indonesia. Kita tidak akan lagi melihat logo serigala hitam itu terpampang di layar draft turnamen The International. Namun, warisan yang ditinggalkan BOOM Esports tidak akan mudah dilupakan. Dari dominasi lokal hingga menaklukkan raksasa dunia di Dubai, BOOM telah mengajarkan kita untuk bermimpi tinggi.
Terima kasih, BOOM Esports Dota 2. GGWP.
